Project [K], a fanfiction
Disclaimer: GoRa and GoHands
_________________________________________________________________________________"HUAAAAAAA...!!!!"
Bunyi berdebam benda jatuh. Memekak telinga. Jantung berpacu kencang. Kusanagi Izumo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak panik dan berlari menyambangi kamar si raja cilik di lantai dua bar miliknya. Astaga... baru saja tiga menit ia tiba di bar dan rajanya sudah bikin ulah lagi. Dua hari yang lalu rajanya bermimpi aneh tentang dijejali satai kelinci oleh Raja Biru hingga tanpa sengaja membakar habis kasurnya sendiri... lalu lima hari yang lalu rajanya juga bermimpi dikejar-kejar segerombolan kuda putih bersayap dengan Kamamoto Rikio menunggangi kuda paling depan, lengkap dengan setelan jubah a la bangsawan kuno di abad 18, sehingga--konon di dalam mimpi, katanya--si raja kecil berusaha melenyapkan pasukan kuda putih itu namun dengan bayaran Bar HOMRA yang nyaris dilalap kuda merah hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Semua ini hanya karena sepenggal frase: mimpi buruk... atau mimpi konyol?
Izumo bersumpah. Raja barunya itu harus dipaksa mengikuti sesi terapi kesehatan jiwa dan kelas managemen emosi diri.
Namun kali ini, Izumo tidak mencium bau pelitur ruangan yang terbakar. Matanya tidak bertemu asap hitam. Telinganya tidak menangkap derak-derak raungan si kuda merah. Tidak biasanya.
Izumo memutuskan untuk mengetuk pintu.
"Yata-chan... kau tidak apa-apa?"
Terdengar suara dari dalam. Serak. Gemetaran.
"Masuk saja... Kusanagi-san... tidak dikunci."
Izumo membuka pintu kamar... kemudian menemukan Yata Misaki terduduk di atas ranjangnya. Dada naik-turun. Pupil mengecil. Sekujur tubuh pemuda itu mandi peluh.
"Yata-chan... mimpi buruk lagi?"
Raja kecilnya tidak menjawab. Raja kecilnya hanya melipat lutut dan menenggelamkan wajahnya. Lalu terisak kecil.
Sepertinya sebentar lagi Izumo akan mengalami serangan jantung stadium satu.
Dihampirinya si raja kecil. Izumo lantas duduk di sisi ranjang, menepuk pelan rambut berantakan Misaki. Tidak berkata apa-apa. Izumo menunggu rajanya menenangkan diri.
"Saru... Saru...."
Izumo menghela napas. Entah mengapa, situasi ini sudah terbayang jelas di otaknya dari beberapa saat yang lalu, terutama tentang nama yang baru saja diucapkan Misaki.
"Si monyet itu, kenapa?"
"Aku melihat... dia mati...."
Yang kali ini, Izumo benar-benar seperti disambar petir. Ia pikir rajanya bermimpi dikejar-kejar si monyet bodoh itu, disudutkan di suatu gang, beralih pada pertempuran tak terelakkan, sampai pada akhirnya si monyet akan mengaku berbagai hal, dari alasan berkhianat hingga sebagai tertuduh pencuri kaos oblong sang raja.
Rupa-rupanya tidak. Atau Izumo mungkin sudah terlalu terbiasa berimajinasi mengenai mimpi unik yang selalu diceritakan Misaki padanya.
"Aku melihat Totsuka-san... lalu Mikoto-san... satu-satu lenyap dibakar api dan jadi abu, menghilang.... Lalu Saru... dia juga... dia...."
"Sudahlah, semua cuma mimpi."
Kata-kata Izumo tidak pernah sampai di telinga Misaki. Pemuda itu tetap menggigil, dengan lengan terjulur dan jemari yang menggenggam erat ujung kemeja Izumo.
Sekali lagi, Izumo menghela napas.
Rajanya kini tidak akan pernah bisa dijinakkan sebagaimana ia mampu menjadi pengendali emosi raja sebelumnya. Tidak bisa dirinya, tidak juga Rikio, Chitose, Bandou, Eric, atau Anna sekalipun. Rajanya sudah punya penarik tali kekangnya sendiri, meskipun semua orang tahu bahwa tali itu dibawa kabur oleh seekor monyet bodoh yang tak bertanggung jawab dan membiarkan semua orang menanggung akibat dari perbuatan imbisilnya itu.
Tidak ada yang bisa menjadi seorang Fushimi Saruhiko di HOMRA. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya, terutama bagi Misaki.
****
"Fushimi-san hari ini kenapa? Sewot banget dari pagi...."
"Engga tahu. Kata Kamo-san yang ketemu di kamar mandi pas sikat gigi, mata Fushimi-san udah merah banget dan agak bengkak."
"Dia habis berantem? Sama siapa?"
"Atau habis begadang dan mabuk sake?"
"Hei, meski jenius umurnya masih di bawah dua puluh tahun, loh...."
"Bengkaknya bukan bengkak ditonjok gitu, sih. Aneh tapi bengkaknya... kayak...."
"Kalau kata Kamo-san sih... kayak mata istrinya kalau habis nangis semalam suntuk."
"Hahahahaa... becanda banget. Mana mungkin Fushimi-san...."
"... tapi iya, sih... belakangan, atau udah seminggu ini dia jadi aneh. Gampang marah, sewot... denger-denger Letnan Awashima kemarin baru nyembur Fushimi-san gara-gara sepiring anko yang dibanting tepat di mata Letnan...."
"... minta dibunuh di tempat banget tuh sama Letnan Awashima...."
"Kamarku sebelahan sama kamarnya Fushimi-san... dan emang beberapa malem ini aku kebangun terus gara-gara suara aneh dari kamarnya. Suara semacam benda dibanting lah, setelah sebelumnya dia teriak-teriak kayak habis dapet mimpi buruk atau kedatengan setan."
"Hahahaa... ya kali kedatengan setan. Orang macem dia sih mana percaya yang begituan?"
"Berarti... mimpi buruk?"
"Oh ya... dia juga sempet manggil-manggil nama orang."
"Eh? Manggil-manggil siapa?"
"Engga tahu, engga jelas. Sesuatu yang ada 'Misa'-nya... kayak nama cewek."
"Hooo... jadi Fushimi-san, mimpi buruk soal cewek?"
"Eh, emang dia punya pacar?"
"Misa... Misa... hmm, kayak pernah denger nama itu di mana, ya?"
"Tanya orangnya aja, gimana?"
"Dih, ogah. Mending aku makan satu panci bubur kacang hijau buatan Letnan Awashima ketimbang nanya langsung hal ini ke Fushimi-san."
"Hahahaha... gila kalian. Udah, ayo kerja lagi...!"
.
.
.
Saruhiko menggeram dari balik pintu. Niatnya urung untuk memasuki ruang kerja. Sepertinya ia hari ini akan minta cuti pada sang atasan untuk jalan-jalan dan membersihkan pikirannya. Ya, pikirannya yang penuh akan percakapan menyebalkan para rekan kerja yang membuatnya selalu teringat pada pemilik warna madu di balik kupluk bulukan, yang selama tujuh hari ini terus menghantui setiap malam-malam gelapnya....
... dalam kubangan darah dan tubuh terkulai lemah yang akan selalu ia peluk di akhir mimpinya.
No comments:
Post a Comment