A collaboration fiction
Featuring Leon Halverg (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________
Zen nyengir lebar, mengibaskan flyer berukuran A5 itu di hadapan wajah Leyka. "Acaranya anak koas stase bedah, Ka. Yaa, kali-kali mau dateng. Terbuka untuk umum, kok."
Leyka lantas mengambil kertas tersebut dan mengamatinya lekat-lekat. "Hemm... acara lomba lari pasangan... Run for Your... Love?? Hah?? Harus pasangan banget nih, Zen?"
"Engga. Mau kakak-adik, bapak-anak, ibu-anak, kakek-cucu, sobat karib, tetangga apartemen, semua boleh asal berpasangan. Sebetulnya bisa aja sih jadi kompetitor individu, cuma harga tiketnya aja lebih mahal dan hadiahnya cuma dapet separuh, hahaha...."
"Dih, dasar otak marketing. Terus, kenapa kamu ikutan ngasih selebaran ini ke aku? Residen macem kamu ikutan ngurusin juga emangnya?"
Zen tertawa lepas. Teman seangkatannya dari SMA yang kini mengambil jalur spesialis yang berbeda dengannya itu tetap saja tidak berubah; kritis dan berlidah tajam. Ia masih belum bisa berhenti menerka atas alasan apa Rio jatuh dari kepala hingga ujung kaki pada perempuan ini.
"Iseng, abis kelihatannya acaranya bakal seru. Dan bakal lucu kalau lihat kamu partisipasi juga sama Rio, Ka."
"Kamu sendiri engga mau daftar?"
"Aku? Hehehe... kalau ada pasangannya sih mau aja, Ka. Tapi, siapa?"
Sepertinya beban kerja dan begadangnya selama beberapa malam ke belakang mulai membuat Zen melupakan imaji seorang pria berprofesi detektif swasta yang tidak pernah absen mengiriminya bekal makanan di setiap jadwal jaga malam Zen.
****
"Maaf, benar di sini tempat pendaftaran lomba lari pasangan?"
Desis dan teriakan tertahan perawat dan dokter muda di sekeliling. "Eh--iya, betul. Anda mau daftar? Individu atau pasangan?"
"Pasangan."
Decak dan dengung kecewa, sarat patah hati. "Oh... emm, baik... erhm--silakan tulis nama Anda di kolom ini, lalu umur, tinggi badan, berat badan, golongan darah, dan pekerjaan Anda. Lalu silakan isi nama dan identitas pasangan lomba Anda di kolom sebelahnya...."
"... hmm, hmm...."
"Lalu silakan tanda tangani di bawah... wah, cepat sekali. Anda sudah hapal identitas pasangan Anda, ya?"
"Hmm, kurang lebih."
"Baik, saya cek kembali, ya? Nama Anda, Leon Halverg, umur tiga puluh satu tahun, tinggi badan seratus delapan puluh tiga sentimeter, berat badan tujuh puluh lima kilogram, golongan darah B, pekerjaan sebagai detektif swasta. Dan yang akan menjadi pasangan Anda adalah...."
Diam yang menggantung.
"... ya? Ada yang salah?"
"... ehm--yang jadi pasangan Anda adalah... Dokter Adriantama Zein, umur tiga puluh tahun, tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter, berat badan lima puluh sembilan kilogram, golongan darah O, pekerjaan sebagai... residen bedah Rumah Sakit Pusat Shinjuku? Ta--tapi ini 'kan--"
"--iya, Dokter Zen. Sekali lagi, ada yang salah? Atau Dokter Zen sudah mendaftar perlombaan ini dengan pasangan lain?"
"Eh... oh, be--belum, sih... tapi...."
"Baiklah. Kalau begitu, ini uang pendaftarannya. Dan bisa saya bertemu Dokter Zen? Ponselnya tertinggal di apartemen saya tadi pagi dan saya sekalian ke sini untuk mengantarkannya."
"...."
****
"Zen? Nyari apa?"
"Shit... HP gue--"
"--woi, Zen! Ada yang nyariin, tuh! Katanya bawain HP lo yang ketinggalan. Ah, sumpah deh lo kayak anak kecil banget, barang ketinggalan minta dianterin."
"Hei, bukan gue juga ya yang minta. Terus, siapa yang nyariin? Orangnya di mana?"
"Di lobi ruang tunggu depan IGD. Gue engga tahu namanya, cuma disampein sama anak koas doang. Tapi katanya sih, cowok yang daftarin diri sebagai pasangan lo buat lomba lari minggu depan."
Hah? Cowok...? Daftarin diri buat lomba lari pasangan...?
... astaga.
AS--TA--GA...!!
.
.
.
"... Dokter Zen!! Jangan lari-lari di koridor rumah sakit...!!"
No comments:
Post a Comment