Disclaimer: Becky Sloan & Joseph Pelling
Paige as the notepad and Tony as the clock
_________________________________________________________________________________
Bukan hari yang sama seperti biasanya. Setidaknya, tidak ada denting peperangan memecah antara pulpen dan jarum jam ketika tirai gorden dibuka di awal serangan fajar. Suasana yang tenang. Sunyi dan senyap. Sesekali terdengar detik jarum jam di satu ruang. Sesekali terdengar gesek gores pena di satu ruang lainnya.
Oh ya, hari ini Valentine. Hari yang katanya sebagai perlambang hari kasih sayang penuh kontroversi dibalut berjuta macam bentuk komersialisme. Hari yang penuh rasa cokelat dan warna merah jambu dihiasi pita-pita besar merah menyala. Hari di antara hari-hari besar lainnya (seperti Natal, Paskah, dan Tahun Baru) di mana pulpen dan jarum jam tidak harus berjibaku dan saling mengancam bahkan sebelum fajar berhasil terbit di ufuk Timur.
Tony akan membiarkan Paige dengan kreasi dan imajinasinya, tertuang entah di atas kanvas maupun di antara lembar-lembar bukunya. Dan Paige akan dengan senang hati memanfaatkan kelapangan Tony sebagai bentuk liburan dari pedang jarum Tony yang, biasanya, selalu nyaris memenggal kepalanya saat ia tidur.
Meski tetap saja. Namanya saja penguasa waktu. Maka jangan heran jika Paige yang kini dalam dua puluh empat jam berevolusi menjadi putri cantik dan mempekerjakan sang waktu, tetap akan berubah kembali menjadi Cinderella dengan celemek kusamnya ketika lewat jam dua belas tengah malam nanti. Tentu saja, dengan Tony sebagai ibu tirinya yang siap mengacungkan pedang kapanpun, dimanapun.
****
Tiga kanvas. Lima buku terisi penuh. Jeda waktu delapan belas jam. Paige yang teramat puas dengan hasil kerjanya dan Tony yang geleng-geleng kepala mengamati lekat-lekat arloji di sakunya. Paige yang kemudian pergi mandi dan bersolek sementara Tony yang mulai berteriak tentang pesta nanti malam.
"Sayang, pesta dimulai tepat satu jam lima puluh delapan menit tiga puluh detik lagi," ujar Tony, menekankan panggilan mesra itu hingga terdengar begitu ironi. "Kuharap kau segera menyelesaikan ritualmu, dan--"
"Oh, jangan khawatir, Darling... aku sudah selesai memilih baju. Aku tidak akan berdandan menor seperti pesta tahun baru kemarin, jadi kau tidak perlu menunggu begitu lama."
Dan jarum pun berdetik. Melangkah. Berderap dalam stagnansinya yang terbuang tanpa arti.
Tony menunggu. Menunggu. Menunggu.
"Sayang, sudah pukul delapan belas lewat tiga puluh empat menit sebelas detik, kita akan terlambat jika--"
"Sebentar lagi selesai~ bajuku tadi tidak serasi dengan warna bedakku jadi aku menggantinya lagi--"
"--apa...?! Kau mengganti--"
"--oh sudahlah, sebentar lagi aku selesai. Jangan cemas dan jangan MENDOBRAK masuk ke kamarku seperti yang kau lakukan di hari Natal dua tahun yang lalu!"
Tony terdiam. Jarum jam kembali berdetik. Melangkah. Berderap dalam konsistensinya untuk disia-siakan selanjutnya.
Tony menunggu. Menunggu. Menunggu.
Detik jarum yang menggema menabuh gendang telinganya. Dan mulutnya yang mulai mengeluarkan sungut khasnya.
Meh.
"Paige, sekarang pukul tujuh belas lewat satu menit tiga puluh dua detik dan--"
"--sebentar, oh kau laki-laki tidak sabar! Aku sedang memilih maskara...."
Meh.
Meh. Meh. Meh.
"Paige... jika dalam satu menit lagi kau tidak keluar--"
"..lipstick! Hanya tinggal lipstick dan--"
Brakk!
Satu detik dalam bisu. Tony bersumpah untuk membuat Paige membayar setiap detak anak-anaknya yang terbuang dengan percuma.
"Tony...! Aku sudah bilang untuk tidak--"
"--kau tahu aku tidak bisa menunggu, Paige."
Dan Tony tidak lagi membuang-buang waktunya yang berharga. Satu gerakan cepat, tanpa suara. Tak ada pedang yang dihunus. Tak ada gertak ancaman. Tak ada jerat melukai. Semuanya ia lakukan dengan mulus. Tanpa ragu.
Mencabik raga Paige merupakan perkara mudah. Namun Tony lebih memilih untuk mengoyak Paige dari dalam. Dimulai dari benaknya. Dimulai dari rasa yang menggeliat meliar. Hingga Paige akan berakhir gemetar di tangannya... dalam pelukannya.
.
"Don't... hug me.... I'm scared... it hurts...."
.
Tony tersenyum. Penuh kemenangan. Penggalan waktunya yang terlupa kini terbalaskan dendamnya. Ia berbalik dan melangkah pergi. Tidak lagi memedulikan pesta dan ritual hari-hari besar lainnya. Dan di ambang pintu, senyum puasnya menyapa Paige yang telah terduduk lemas di karpet beludru hijau toska dengan kedua bola mata mengucurkan derai-derai kehitaman, sehitam tinta.
"Selamat malam dan selamat beristirahat, My Valentine."
No comments:
Post a Comment