20130804

Immortality #3

A duet fiction
Featuring Freyr Halverg (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

"Kana-chaaan...! Oh, ayolah... sebotol lagi engga akan bikin kamu mati, 'kan?"

Kanami tersenyum memaklumi. Segala rengekan tetangga apartemennya itu telah menjadi angin lalu baginya. Padahal keduanya sudah sama-sama menjejak tengah-tengah rentang kepala dua mereka, dan Kanami masih sering saja dibuat geleng-geleng oleh perilaku kekanakan seorang Freyr Halverg.

Toh Kanami percaya, hanya pada dirinyalah lelaki balsteran Jepang-Eropa itu bisa menunjukkan wajah lain dari segala bentuk topeng yang dimiliki.

Ah ya, semua orang memang bertopeng. Dan apakah keluguan lelaki di hadapannya ini juga merupakan salah satu bentuk topeng yang lain?

Kanami tertawa lepas. Tangannya mengulur satu botol sake besar dan menggoyang-goyangkannya tepat di depan kedua mata Freyr. "Minggu depan, traktir aku makan sampai puas di kaitenzushi*) di Funabashi, oke? Tanpa botol sake terakhirku, aku engga tahu malam ini aku akan berakhir jadi apa."

"Sudahlah... biasanya si dia akan mengajakmu keluar untuk minum-minum dan akan kembali berakhir di tempat tidur, toh? Dan kau juga masih berhutang satu perkenalannya denganku," kilah Freyr, namun tanpa ragu mengambil botol hitam itu dari genggaman Kanami.

"Sekalian malam ini saja, bagaimana? Toh pacar barumu itu juga akan datang menjemputmu sekarang, 'kan? Meski aku heran, Freyr... perempuan mana yang hobi menghabiskan sebotol sake setiap kali berkencan denganmu, bahkan sampai bolak-balik menjemputmu ke apartemen? Aku tidak habis pikir...."

Dan Kanami tidak pernah mendapatkan jawaban berupa kata-kata dari bibir lelaki itu. Atau setidaknya, tidak untuk selang waktu tiga puluh empat menit ke depan.

****

"Kamu ngapain di sini?"

Shinji melempar pandang singkat sebelum menjawab pertanyaan dan sirat keheranan Andreas yang baru saja turun dan mengunci pintu mobilnya. "Hmm? Oh, jemput temen. Lo sendiri?"

"Sama. Jemput juga."

"Hmm...."

"Kok lucu, ya? Kita baru selesai misi, pulang ke kamar apartemen masing-masing... dan sekarang ketemu lagi di sini."

Shinji menyalakan rokoknya. Asap membumbung tinggi, menjawab pertanyaan Andreas.

Derap langkah menuju lobi. Guruh tawa dan langkah lain tergesa-gesa dari tangga. Untuk berikutnya dijemput empat bola mata membelalak dan tentang kemelut kenyataan yang... entah untuk ditangisi atau untuk ditertawakan.

"Malem, Shin. Udah lama nunggu?"

"Baru dateng. Itu... botol sake?"

"Yup. Aku dapet ini dari Kana-chan, tetanggaku. Kana-chan, kenalin, ini Shinji. Loh? Kamu dateng sama Andreas, Shin?"

"...."

"... Nami... ini...?"

"... err, Freyr... kenalian, ini Andreas... pacar baruku."

****

"... kamu engga pernah bilang kalau Freyr itu pacarnya... partner kerjamu."

"Kamu sendiri engga pernah bilang kalau kamu dan Freyr itu tetanggaan."

Diam yang tidak biasa, dan menggantung.

"... terus... cowok tulen...?"

Andreas menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya kamu seharusnya udah biasa dengan hal-hal berbau percintaan sejenis? Kamu dicampakkan tunanganmu juga alasannya karena--"

"--karena tunanganku menyukai teman sesama jenisnya, oke, dan tolong jangan ingatkan aku akan hal itu, Andre! Astaga... ini gila. Gila, sungguh... rasanya kepalaku mau meledak. Iya, gila, sangat...."

Satu senyum melengkung. Dan bibir Andreas yang menempel tepat di daun telinga Kanami, embus napas yang terasa bagai racun memabukkan.

"Kamu sendiri yang mencintai seorang makhluk imortal dan menyiksanya untuk menonton kematianmu nanti, bukankah kamu juga sama gilanya, Nami?"

_________________________________________________________________________________

*) conveyor sushi

2 comments:

  1. GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA FREEEEEEEEEEEEEEEYR JANGAN BIARKAN SHINJI MENODAIMU LEBIH JAUH LAGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

    *ditendang ke bulan*

    ReplyDelete
    Replies
    1. telat protesnya telaaaaat... kan apapun yang disentuh Shinji sudah pasti akan dinodai, ihi ihi ihiii~

      Delete