20131207

Hutan (di ujung) Sumur #2

Untuk sesaat, ia berpikir danau teratai dengan gazebo di tengahnya itu akan selamanya menjadi surga kecil yang harus ia jaga di ujung belantara hutannya.

Namun ternyata tidak. Sayang sekali.

Karena ketika suatu hari, badai salju mengguruh dari bibir sumur, menyembur dan meniupkan bulir-bulir putih dingin menghujam ke seluruh penjuru hutannya. Ia lalu melawan dengan derak pasukan kuda merahnya. Hutannya selamat. Pohon-pohonnya akan sekali lagi meranggas terbakar untuk menghasilkan tunas-tunas segar baru...

... meski tidak untuk surga kecilnya. Danau teratai dan gazebo mungilnya. Istananya yang seharusnya ia jaga dalam keabadian.

Danau teratai itu membeku, berubah menjadi hutan dengan daun-daun es menjuntai indah tak lupa air terjun beku tinggi membentang. Sementara di puncaknya, dalam sekejap berdiri sebuah istana. Istana kristal megah dari balok-balok es membeku, terukir indah walau dinginnya menusuk bahkan hingga ke hutannya.

Mata merahnya membelalak. Dari ujung belantaranya, ia lantas berlari secepat mungkin menuju ujung satunya; pintu masuk menuju hutannya, gerbang sumur.


****


Ia tersenyum dari bibir sumur. Matanya menangkap riak air sumur dari kedalaman, lalu seorang gadis berparas serupa balas menatapnya dari dalam sumur. Tatapan mata murka. Amarah meledak-ledak. Dan ia hanya tersenyum, semakin lebar.

"Kau... hutan terataimu... APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Teriakan gadis itu menggaung dari dasar sumur. Sementara ia tertawa. Tawanya lepas, dengan getir tersembunyi sempurna di setiap dentang nada tawanya.

"Maaf, ya. Aku tidak bisa membekukan gubuk kecil beserta taman dan tamu-tamu sialanku di sini, jadi... kutitipkan musim dingin tak berujung di tepi hutan kenanganmu."

"... kau tidak cukup dengan merah bara yang selalu kukorbankan untuk menakut-nakuti tamu-tak-tahu-dirimu itu dari sini?! Atau harus kulelehkan istana esmu dengan lidah-lidah apiku--"

"--jangan mencoba. Kau tahu kau tidak bisa melelehkannya."

Beberapa detik berlalu dalam hening, sampai gaung jawaban itu terdengar lagi dari dasar sumur. Yang kini, suaranya terdengar berat.

"... dan apa yang menjadi alasanmu?"

"Alasan?" Ia terkekeh. Ada rasa manis yang meliar, menggeliat dalam benaknya, diiringi perih mengiris yang mencoba meruak memperlihatkan taringnya.

.

"Aku lelah jadi orang baik. Jadi, tolong jangan halangi aku untuk mengubur segalanya jauh di kedalaman salju, ya?"

No comments:

Post a Comment