Rio menoleh, mulutnya penuh sobekan roti krim keju.
"Ape?"
"Hehe... pinjem PR Sejarah."
Rio mendengus geli. Kunyahan roti di mulutnya hampir saja meloncat keluar dari hidung.
"Heh... katanya mau jadi ketua OSIS, hari gini masih nyontek?"
****
Namanya Zen. Orangnya supel dan terkadang bandel. Tidak pernah terlambat masuk kelas tapi tidak jarang juga lupa mengerjakan PR. Katanya ia lahir dari keluarga penyandang gelar spesialis dokter bedah dan dokter kandungan, meskipun hobinya tetap saja miring: balapan liar di akhir minggu. Dan darimana asalnya hobi gila itu?
Salahkan semuanya pada Rio.
Rio memang tidak bisa menolak kedekatannya dengan pemuda ini, bahkan sampai ikut-ikutan mengajari Zen segala macam teknik balap dan bertahan hidup di arena balap liar.... Kalau Leyka tahu, mungkin kepalanya bisa putus di tempat (setelah gagang sapu menghajar sisi lengannya begitu Leyka tahu alasan Rio yang sering pulang malam adalah demi uang hadiah balap liar).
"CBR lo hasil modif, Yo? Di bengkel mana? Keren punya, gitu! Murah, engga? Kalau lebih murah dari bengkel modifnya si Teru, gue mau dong!"
Rio nyengir kuda. Ia tidak bisa bilang kalau motornya merupakan hasil modifikasinya sendiri... sedikit-banyak dibantu oleh mekanis-mekanis handal di markasnya. Alhasil, Rio pun berusaha bersilat lidah, sebisanya.
"Yah... ada senior gue di asrama yang hobi modif motor, tapi dia engga buka orderan. Ngemodif motor gue pun cuma iseng-isengannya doang."
"Haha, tapi boleh lah kapan-kapan kenalin ke gue. Eh tapi, apa sih enaknya hidup di asrama, Yo?"
Cengiran Rio semakin lebar. Dari masalah modif motor sampai kehidupan pribadi. Hanya saja sayang, Rio tidak mungkin bisa menceritakan kemampuannya berlari satu kilometer dalam waktu sepuluh detik saja pada pemuda itu.
****
"Lo... pacaran sama Leyka ya, Yo?"
Rio hampir tersedak es kelapa jeruknya.
"Hahaha~ strike! Kalau reaksi lo kayak gini, pasti beneran--"
"--gue nembak dia pas kelas dua SMP, tapi ditolak. Puas?"
"Yah... ternyata gitu, toh? Abis lo berdua deket banget."
"Ya mau gimana lagi, Ze? Apalagi gue tinggal seasrama gitu sama dia. Gue emang masih nyimpen perasaan, tapi nunggu dianya sadar sendiri, deh. Toh dia juga belum mau suka lagi sama orang lain setelah pupus dari cinta pertamanya."
"Heee.... Kalau Nandi, kosong engga, Yo?"
Kali ini, sedotan minumannya nyaris meluncur menginvasi kerongkongannya.
"Ap--apa, Ze?"
"Gue tanya, Nandi kosong apa engga? Cantik sih, kayaknya gue suka.... Seasrama juga 'kan sama lo? Bantuin gue kenalan sama dia, dong! Canggung gue, beda kelas soalnya...."
Rio lantas menepuk-nepuk pundak Zen. Tatapan matanya penuh rasa iba.
"Kalau lo sayang nyawa, mendingan cari cewek lain, deh. Kecuali lo mau abis dikulitin sama Nara dan dibakar hidup-hidup sama... ehm, si kakak ketua OSIS."
"... Nara itu, adik kembarnya Nandi, 'kan? Terus apa hubungannya sama Kak Andreas...? Oi, Yo, jangan bilang kalau... WOY SATRIOOOOO BALIK SINI LOOO!!! GUE BELUM SELESAI BICARA OOOOIIII!!!!"
No comments:
Post a Comment