20130422

Love Potion #8

"Ki, kamu nyesel engga, jadian sama aku?"

Aki nyaris menyatukan kedua alisnya rapat-rapat. "Ha? Engga tuh. Kenapa emang?"

"Engga. Nanya aja."

"Hmm... engga kok, engga pernah nyesel. Malah aku engga kebayang, gimana jadinya aku kalau dulu pas nonton kembang api aku mutusin untuk engga nembak kamu dan ngebiarin kamu untuk akhirnya berpaling ke Ze."

"Hahaha... segitunya kamu sama Ze?"

"Bukan masalah dia, tapi aku. Engga kebayang aku bakal jadi apa. Aktifis? Orang yang demen nongkrong di himpunan? Orang yang hobi rapat sampai pagi?"

"Terus, kamu rugi engga, setelah pada kenyataannya kamu engga jadi tipe orang yang kamu sebut tadi?"

"Enggalah. Untung banget malah, hehehee.... Makasih ya, Len...."

"...."

"Len? Hei, Alena--yah, malah tidur dia...."


****


"Ki, kopinya cuma ada yang rasa moka dan cappucino--"

Mata Zen membulat maksimal. Sementara percikan api merah biru mulai meliar di dadanya. Melilit perutnya.

Api cemburu yang manis.

"Oh iya, taruh aja di meja. Dan kenapa tampang lo bete, deh?"

"... menurut lo?"

Aki masih tidak sadar--tidak, mungkin Aki hanya terlalu terlarut dalam kenikmatan surga duniawinya yang bahkan belum bisa ia sadari sepenuhnya. Dan betapa kenikmatan surga duniawi itulah yang membuat neraka meletup-letup dalam benak Zen dengan kata-kata terpatri yang ikut mengelana. Cemburu, canggung, dan perih.

Karena Aki berhasil membuat dada bidangnya menjadi seempuk bantal berkualitas mahawahid, dan tentunya berhasil menarik keluar wajah manis kekanakan Alena yang tertidur pulas... raut yang tidak pernah Zen temui, bahkan dalam lima tahun kehidupannya bersama gadis itu.

No comments:

Post a Comment