20131130

Immortality #8

A duet fiction, featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________

Wangi laut. Desir angin dan sapuan ombaknya. Nyanyian pelikan yang tidak lagi terdengar di ujung telinganya. Adalah sebuah kenangan tentang sang malaikat maut berparas elok setiap kali ia berhadapan dengan pemandangan itu.

Laut. Terekam jelas di ingatan. Nandi mencintai laut, keindahannya, ketenangannya....

... juga amarah murkanya.

Andreas mendesah. Wangi laut yang menyesakkan dadanya. Matanya terasa panas dengan warna-warni di sekelilingnya. Sementara gambaran itu selalu hadir di mimpi penghujung paginya, dengan lengannya yang selalu berusaha menggapai sosok itu di seberang jurang.

Dan selalu berakhir sama. Sama. Tidak pernah berubah.

Andreas ingin sekali menghentikan laju waktunya. Terlebih setelah seorang wanita berhasil mengorban nyawa karenanya, karena egonya, karmanya yang selalu ia putar seorang diri, menghasilkan chaos dan mengembalikan segalanya pada titik nol. Bagai seekor keledai yang selalu terjerembab dalam lubang yang sama... bahkan kata imbisil sudah tidak bisa lagi mewakilkannya.

Ia ingin berhenti. Ia lelah. Peluhnya tak kasat mata yang menjadi duri-duri membebani tengkuk. Namun bagaimana caranya? Dihantam rentetan peluru gatling gun atau potong kepala sekalipun tidak mampu membuat jantungnya berhenti berdetak.

Tolonglah... siapa saja. Ia ingin menyerah pada hidup. Ia ingin bertemu malaikat mautnya. Ia ingin tenang bersama malaikatnya itu, entah di surga ataupun neraka....

'Tolong....'

Andreas mengerjap. Manik hitamnya membulat di balik kacamata tanpa bingkainya. Daun telinganya menangkap sebuah suara. Pilu. Penuh asa berarak. Api jiwa yang nyaris padam ditiup sisa waktu.

'Tolong... aku masih... ingin hidup... bersamanya.'

Diiringi debur ombak memecah ganas di kaki karang, Andreas melepaskan jaketnya dan menceburkan dirinya ke laut. Menjemput sejumput harap yang mungkin meminta pengampunannya.

****

Jika pada akhirnya ceritaku tidak pernah bahagia... ah, jika pada akhirnya aku tidak pernah bisa meraih kebahagiaan seperti Kana, maka aku....

Aku....

Akankah aku tetap tenggelam? Terbawa ombak? Terseret arus? Mati terbentur-bentur batu karang? Akankah aku diam? Ataukah aku harus melawan? Haruskah aku berenang ke permukaan?

Menggapai cahaya. Ah... hangat. Mungkin mereka akan datang menjemputku, menuju pintu penghubung dunia bawah....

'Freyr....'

Ada yang memanggilku. Siapa? Di mana?

'Freyr... jangan mati. Kamu belum boleh mati....'

Dadaku sesak. Napasku....

... tangan ini... ada yang menarikku....

Siapa...?

"FREYR...!!"

****

"... kenapa kamu malah nyelametin aku, Andre?"

"Karena kamu belum siap mati."

Andreas menemukan senyum masam di bibir Freyr yang kemudian dianggapnya sebagai ucapan terima kasih yang tidak pernah terlontar dari mulut pria basah kuyup itu. Andreas lalu melemparkan jaketnya, menutupi sebagian tubuh Freyr.

"Gara-gara kamu... Kana mati."

"... iya. Aku engga akan menyangkal soal itu."

"Dan gara-gara kamu... Shinji...."

Andreas terhenyak. Ada bulir-bulir keperakan mengalir dari sudut mata pria itu. Perih dan sakit yang tumpah-ruah... Andreas memang sudah siap untuk dijadikan pelampiasan sedemikian rupa.

Hela napas panjang. Matanya kembali menangkap warna jingga menggelap jauh di seberang.

"Karena alasan itulah aku nolong kamu, Freyr. Kamu harus hidup. Dan aku yang harus pergi."

"... kamu mau pergi? Kemana? Kenapa?"

"Kemanapun. Kenapa? Supaya Shinji engga terus-terusan mencari punggungku, supaya dia akhirnya bisa ngelihat hal-hal lain di sekelilingnya, termasuk kamu. Dan...."

"... dan?"

"Kamu pasti udah pernah denger tentang aku dari Kanami atau Shinji. Dan karena itu, aku menolak untuk menjadi orang terakhir yang hidup untuk melihat kalian menua dan mati duluan daripada aku."

Diam. Menggantung. Menjadi canggung. Debur ombak yang bagaikan nyanyian penghantar tidur masih menemani. Sementara telinganya menangkap derap-derap langkah terburu-buru yang begitu ia kenal, beriringan perlahan menuju tempat itu. Masih begitu jauh, namun Andreas mampu mendengarnya. Merasakannya. Satu senyum terbit di bibirnya. Lengannya terjulur, menepuk lembut puncak kepala Freyr.

"Titip Shinji. Dia pantas untuk bahagia, dan cuma kamu yang bisa."

"... lalu kamu? Kamu engga mau bahagia?"

Teriakan pelikan menyapa, seolah menggantikan separuh isi jiwanya yang ikut meraung bersama dengan pertanyaan Freyr.

"Aku udah cukup banyak mengambil kebahagiaan mereka. Aku engga pantas... dan sekarang biar kuambil satu lagi kebahagiaan mereka dengan kepergianku."

"...."

"Tolong ya, Freyr."

"... engga, Andre, kamu harus--

"--Andre...?"

****

Kata-kata Freyr terputus. Angin berhembus. Pelikan masih menari-nari di atas kepalanya. Debur ombak memecah masih mengisi kepalanya. Sementara ia sendiri di sana. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu telah menghilang. Tak terasa bagai angin yang menyapu pasir untuk kemudian mengaburkan jejaknya.

Seolah sejak awal, Freyr hanya seorang diri di sana. Yang tertinggal hanya jaket hitam dan wangi parfum pria itu. Dan kekosongan melanda isi jiwanya.

Kalau sudah begini, Freyr harus putar akal untuk menjelaskan pada Shinji. Tentang salam perpisahan terakhir Andreas, tentang dirinya, tentang Shinji....

... dan tentu saja, tentang arti kebahagiaan itu sendiri.

No comments:

Post a Comment