20131202

Re:trace #2

Selasa sore yang panas terik. Untungnya Nara tidak harus menghabiskan sore dengan penuh keringat di luar ruangan atau di lapangan sepak bola sekolahnya, berterima kasih pada rumah salah satu teman sekelasnya yang full AC di setiap penjuru ruangan.

Teman barunya, yang baru saja keluar rumah sakit gara-gara penyakit demam berdarah, tepat tiga hari setelah masa orientasi siswa berakhir. Sejujurnya, Nara belum mengenal temannya itu dengan baik. Pemuda itu tidak berasal dari SMP yang sama dengannya, dan dalam waktu tiga hari... oh ayolah, bisa apa kau untuk menghapal isi satu kelas hanya dalam waktu tiga hari? Bahkan masa orientasi siswa yang katanya bertujuan untuk mengakrabkan para anak baru pun dirasa olehnya begitu banyak membuang waktu dan sangat tidak efektif.

Buktinya, Nara tidak tahu seperti apa seorang Ato di hadapannya itu. Hanya sebatas pipi tirus, wajah yang masih pucat, dan tubuh jangkung kurus layaknya tiang listrik dengan kacamata bingkai tebal bertengger di hidung mancungnya.

"Sorry banget, ya... lo jadi harus repot-repot nyempetin buat dateng ke sini. Gue engga enak banget, ada tugas presentasi pas gue masuk tapi gue sama sekali engga ngerjain apa-apa."

Nara memicing sesaat, mengamati ekspresi wajah Ato yang segan, sebelum menjawab, "Tenang aja. Yang lain juga engga ada yang ngontak gue buat ngerjain bareng."

"... err, jadi?"

Nara mengangkat bahu. Pasrah. "Makalahnya udah beres gue kerjain, tinggal slide presentasinya aja."

"Oh, gitu? Oke, sip... gue yang kerjain slide-nya sekarang, ya!"

Dan hanya dalam waktu satu jam, Nara berhasil mempelajari hal baru dari temannya itu. Rupanya Ato memang punya otak berprosesor tidak kalah seperti yang dimiliki Andreas maupun Leyka... yang hanya dengan membaca makalahnya sekilas saja dan jari-jarinya tidak berhenti mengetik dan menambahkan animasi sana-sini di setiap lembar presentasi mereka besok.

****

"Atooo...!! Anjir ke mana aja looo?!! Kebanyakan mikir, sih... digigit nyamuk langsung, 'kan!"

"Hush. Demam berdarah sama kebanyakan belajar engga ada hubungannya, Ze."

"Tapi kalau lo engga kebanyakan duduk dan banyak aktifitas, mana ada nyamuk yang mau nempel di badan lo? Anyway, ini Nara, ya? Dari kelas satu B, 'kan? Kenalin, gue Zen, anak kelas satu C, sekelas sama Rio."

"Oh, ya... salam kenal."

"Lo adiknya Nandi, 'kan? Nandi sekelas juga sama lo, 'kan?"

"... iya. Terus?"

"Kapan-kapan, gue boleh kenalan engga, sama kakak lo?"

"...."

****

18:56 Kamu mau dijemput jam berapa?


18:57 Engga usah. Kakak jangan jemput aku.


19:00 Eh? Kan udah malem... engga apa-apa?


19:01 Pokoknya Kakak engga boleh ke sini, titik.


19:05 Hmm... aku minta tolong Rio atau Andreas aja, gimana?


19:07 Terserah


19:08 Rio aja yang ke sini. Tks.

****

Beranda rumah Ato, dan Rio sudah menjemputnya dengan CBR kesayangan pemuda itu.

"Thanks banget, ya... sampai ketemu besok di kelas."

"Iya. Uh, sampai besok."

"Gue juga balik dulu ya, To! Oh ya, Rio~ Sabtu nanti, jadi, ya!"

"Serius mau, Ze? Nanti deh, gue tanya dulu sama orangnya, dia mau atau engga."

"Sip. Duluan, semuanya!"

Derum motor Zen melaju kencang. Ato berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara rasa penasaran yang tersulut membuat Nara berhenti sejenak sebelum naik ke atas motor Rio.

"Sabtu nanti, apaan?"

"Oh? Zen belum ngomong sama lo?"

Nara menggeleng. Rio langsung pasang cengiran.

"Kencan buta. Dia juga ngajak gue, Leyka, sama... Nandi. Gue pikir, dia udah bilang sama lo, jadi gue tinggal tanya Nandi mau atau engga--"

Krak!

Sukses besar. Kaca spion kiri Rio sampai patah dicengkram Nara. Dan yang bersangkutan tidak bisa marah... tidak setelah melihat wajah Nara yang memerah matang hingga telinga.

"Hee... ngerusak spion gue nih, ceritanya? Berarti, sebagai ganti rugi, gue bebas dong ya, bawa Nandi ke kencan buta hari Sabtu--"

Krek!

Kali ini spion kanan, disertai satu tatapan bengis dari Nara dengan matanya yang menyipit layaknya pupil kucing.

"... Over my dead body, Satrio."

No comments:

Post a Comment