Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________
Harus berapa kali lagi, aku menggapaimu dengan langkah terseok?
Harus berapa kali lagi, aku menjadi tulang-belulang untuk bisa sekedar berjalan di sisimu?
Shinji menemukan Freyr, termangu sendiri di pinggir pantai yang memanjang hingga Barat.
"Freyr? Freyr...!!"
Namun suara lantangnya tidak terdengar. Entah terhalang gemerisik pasir dan kerang-kerang yang pecah dihempas ombak, atau memang lelaki itu tidak mau mendengarnya.
"Freyr? Hey... kamu kenapa basah kuyup begini? Ini jaket siapa?"
"... jaket Andreas."
"Andreas? Kamu ketemu sama dia? Freyr, ada apa?"
Harus berapa kali lagi, aku terseret oleh detik jam pasirmu dan aku jatuh ke dalamnya?
Harus berapa kali lagi, aku terjatuh dan terjatuh setiap kali tanganku berhasil menggenggam tanganmu yang kemudian hanya akan berubah menjadi butiran pasir bisu?
Yang Shinji temukan hanyalah tatapan kosong pria itu. Memandang jauh. Menembus tatapannya. Menembus logikanya. Bahkan bisa menembus cakrawala.
"Freyr, ayo pulang. Kamu basah kuyup, kamu harus mandi...."
"Shin...?"
"... hmm?"
"Yang sekarang kamu lihat... aku, atau Andreas?"
Harus berapa lama lagi, aku menunggu agar irama detik arloji kita sama?
Harus berapa lama lagi, aku menunggumu menoleh ke arahku, dan menjulurkan tangan kekar kesepianmu untuk kugenggam erat?
Ataukah... aku memang bukan satu-satunya?
Dan aku memang tidak akan pernah jadi sesuatu?
Bahkan untuk menjadi sesuatu yang satu... aku sudah berhenti mengharapkannya.
"Tanpa Andreas, kamu masih bakal mencari dia, atau aku?"
Shinji menggeram. Tangannya mengepal, mungkin kuku-kukunya sampai menancap di telapaknya. Sementara sekujur tubuhnya membeku, dibelenggu erat rantai-rantai tak kasatmata. Bisik lirih Freyr menghujam hingga dasar batinnya. Ia tidak bisa lagi mengelak. Ia tidak bisa lagi berlari. Ia tahu tidak lagi ada gunanya ia mencari alasan.
Karena alasannya untuk tetap hidup kini runtuh. Pergi meninggalkannya. Punggung itu telah hilang. Hanya dari bahasa tubuh, dan Shinji tahu Freyr tengah menyampaikan padanya bahwa Andreas tidak akan kembali lagi.
Namun bersamaan, seolah cahaya tiba-tiba saja menerangi matanya yang selama ini dibutakan oleh lukanya. Terang. Hampir menyilaukan. Di satu sisi ia kehilangan, namun kehilangannya itu melahirkan sesuatu yang baru. Menghadirkan rasa-rasa manis yang sudah lama tidak terkecap.
Rupanya butuh tumbal lain lagi untuk menyadarkannya akan arti hidup.
"Shin...?"
Shinji tersenyum. Lengkung luar biasa damai yang telah belasan tahun tidak pernah mampir barang sepersekian detik dalam hari-harinya.
"Freyr... boleh aku minta tolong satu hal padamu?"
"... apa?"
Ibarat gemuruh badai yang menyurut, Shinji tahu langitnya sebentar lagi akan dihiasi sinar mentari yang merembes di antara awan-awan putih. Matanya terasa perih. Dadanya sesak... ya, sesak janggal namun melegakan.
"Tolong... ajari aku caranya meraih kebahagiaan."
Dan bahagia....
Di saat kamu berbalik dan meraih tanganku, apakah itu artinya bahagia?
Jika aku berjanji untuk mengajarimu arti kebahagiaan, maukah kamu menjanjikan satu hal untukku?
Bahwa jangan pernah berubah dan berarak menjadi pasir yang tertiup angin. Jangan pernah... karena jemari ini ingin terus menggenggam tanganmu. Selamanya.
****
Sebagaimana kau mencabut hak hidupmu di sisi mereka yang menyayangimu
kau membawa pergi luka yang terlalu berat untuk kami tanggung.
Mungkin lautan hingga penjuru Bumi tidak cukup untuk mengungkapkan kata 'maaf' dan 'terima kasih' dari kami.
Karenanya, selamat tinggal, Kawan.
Sampai kita bertemu lagi, tanpa pernah melawan takdir, di waktu yang lain, di dunia yang lain....
No comments:
Post a Comment