Meski demikian, berbicara tentang wanita cantik... dialah yang menjadi jantung sumur itu.
Sumur itu didirikan di taman belakang sebuah rumah kecil tak berpagar, di mana rumah itu sering menjadi tempat singgah jiwa-jiwa kelam nyaris berputus daya, yang hanya sekedar mampir untuk minum teh di beranda atau bermain air di kolam ikan di halaman depan. Sang pemilik rumah, seorang gadis manis berpipi tembem dengan kacamata kotak bertengger di tulang hidung melesaknya pun tak pernah terlihat letih untuk menyapa setiap tamu-tamunya yang datang silih berganti.
Atau mungkin... seperti itu yang bisa dilihat.
Kenyataan bahwa setiap manusia pasti punya batas kewajaran dan kesabarannya sendiri itu membelenggunya erat. Ia tidak ingin terlihat mengecewakan. Ia ingin menjadi sosok sempurna dalam dunianya, yang berkontradiksi dengan raga manusianya. Ironis. Sungguh.
Untungnya ia tahu ke mana harus pergi.
Sumur itu. Sumur tua di taman belakang rumahnya, taman yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh tamu-tamunya. Toh ia tidak pernah mengizinkan jiwa-jiwa lalu-lalang itu untuk masuk, bahkan hanya melongok melewati jendela teras sekalipun. Rumahnya terkunci rapat. Tertutup gelap-gulita. Ia hanya menyuguhkan asri dan damai muka rumahnya.
Di sumur itu ia mengadu. Ia menjerit. Meneriakkan pilunya. Menyandarkan peluhnya. Membisik lukanya. Menggemakan setiap tanya yang tidak pernah dijawab dunianya.
Untuk menunggu jawaban dari balik sumurnya....
... jawaban?
Oh ya, tentu saja. Toh ada yang selalu menjawab setiap penatnya. Masih ada suara yang selalu bergaung dari dasar sumur. Dari ujung sumur yang lain. Dari sebuah dimensi yang lain.
Suara yang sama, menggaung dan terasa begitu dekat. Dan riak air yang menampakkan wajah yang serupa dengannya, yang selalu membalas celoteh asanya.
****
Kembarannya boleh tinggal dan menjadi tuan rumah yang ramah bagi napas-napas yang diundangnya. Namun tidak baginya.
Ia sang penjaga hutan, yang kemudian dinamainya sebagai Hutan Kenangan. Hutan yang lebat dan gelap tanpa sedikitpun cahaya Matahari mampu menyelusup hingga ke tanah, dan hanya melalui sumur tua itulah satu-satunya pintu menuju hutan tersebut.
Bahkan kembarannya itu tidak pernah mampir barang sejenak. Ruang dan waktu yang berbeda untuk dijaga, dan keduanya memang ditakdirkan untuk tidak pernah saling meninggalkan tempat mereka masing-masing.
Anehnya, tetap saja ada deru napas yang berhasil lolos dan menceburkan diri ke dalam sumur, hingga berakhir di tepi Hutan Kenangannya.
Awalnya, ia mengira itu suatu kesalahan. Tak mungkin kembarannya sebodoh itu sampai membiarkan tamunya berkelana hingga dimensi yang berbeda. Tapi ternyata, disfungsi mental cukup akut ia yakini tengah menggerogoti kembarannya. Mereka yang lalu-lalang di Hutan Kenangannya adalah orang-orang bodoh dan tak tahu terima kasih. Mereka menjarah sana-sini, menebang habis kayu-kayu sekokoh jatinya, menanggalkan daun-daun hijau lebarnya untuk mendirikan pondok, bahkan menguras sungai jernihnya dari hulu hanya untuk peredam dahaga semenit saja.
Mereka boleh bilang Hutan Kenangan adalah surga. Namun ia bersumpah untuk membuktikan bahwa mereka adalah neraka baginya.
Maka ia mengutuk dalam dendamnya. Ia bersumpah untuk membumihaguskan siapa saja yang sudi menjulurkan tangan untuk keluar dari sumur tua itu. Dan ia membakar habis semuanya... jiwa-jiwa itu, pohon-pohon meranggasnya, gunung dan hulu sungainya... ia membakar habis dan melumatkan segalanya hingga tak berbekas abunya sekalipun.
Nihil. Kosong. Tinggal sumur tua di sana. Dan air sumur yang tidak pernah mengering yang kemudian menjadi benih barunya untuk menciptakan Hutan Kenangan yang baru.
Seperti itu. Terus berulang. Dan berulang. Berkali-kali.
Sampai kapan? Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu pasti, tawanya selalu menggelegar setiap kali kuda merah berderak dan berlomba menghanguskan benci di dasar sukmanya.
****
"Ada sejumput abu yang ia kubur di dasar sumur."
"Oh, ada?" Seorang pemuda berambut ikal tersenyum tipis. Kilat penasaran mengambang di iris cokelatnya. "Kupikir, sudah tidak ada lagi yang tersisa."
Seorang gadis bertubuh mungil di samping pemuda itu lantas meninju pelan pundak si pemuda. "Jadi intinya, kamu engga boleh kalah!"
"Malu-maluin banget kalau sampai kalah. Pintu masuk ke dalem rumah udah dikasih, jangan sampai harus ngebakar isi sumur," gurau satu pemuda terakhir. Rambutnya mencuat ke sana kemari.
Pemuda berambut ikal itu terkekeh pelan. Ada rasa mengambang di matanya. Yang si gadis bertubuh mungil bilang itu cinta. Yang si pemuda berambut jabrik bilang itu tulus.
"Jadi, kapan aku boleh nyelam masuk sumur?"
Gadis si pemilik rumah hanya mampu menggemakan tawanya... hingga ke dasar sumur.
No comments:
Post a Comment