Featuring Freyr (c) Tasya Aniza
_________________________________________________________________________________
Perjalanan terbang tujuh jam ternyata bukan suatu pengalaman yang ramah dan menyenangkan. Belum lagi jika Shinji harus menghitung jumlah peluru nyasar yang nyaris bersarang di tubuhnya akibat rasa posesif dan tidak rela seorang bapak-komisaris-besar-kepolisian ketika ia meminta izin untuk membawa serta Freyr dalam liburannya. Tak lupa berbagai alasan miring yang mau tidak mau harus dicerna indera pendengarannya. Astaga, memangnya Freyr masih bocah berumur tujuh tahun?
Tidak sampai di situ saja penderitaan Shinji selama dikurung dalam burung besi berbaling-baling tersebut. Begitu banyak hal berpacu dalam otaknya, lari dari ujung sel satu ke yang lainnya, sementara matanya seolah menangkap gambar-gambar masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam di suatu tempat.
Di saat begini, ia sebal mengapa Freyr bisa tertidur dengan lelapnya. Pulas dan mendengkur pelan dengan tarikan napas stabil. Sebal, tapi juga lega.
Karena Freyr hidup. Bernapas di sampingnya.
Ia tidak tahu akan segila apa dirinya jika Freyr sampai bernasib sama seperti tetangga apartemen pria itu... tidak.
Shinji sudah lelah kehilangan. Bahkan awalnya, Shinji sudah tidak lagi mau meraih. Tidak jika apapun yang ia raih nantinya hanya akan ia hancurkan dalam sekejap mata saja.
... meraih? Menghancurkan?
Kenapa tiba-tiba ia teringat Andreas?
****
Ada yang tidak pernah Shinji sampaikan pada Freyr, mengenai alasannya bergabung dalam setiap misi 'penyelamatan' yang dilakukan Andreas. Alasannya simpel, karena semata-mata Shinji hanya ingin punggung kesepian pria itu berjalan di depannya, sebagai papan berjalannya untuk mengingatkan bahwa....
... bukan dirinya yang menanggung beban paling berat dari masa lalu. Bukan, setidaknya bukan ia.
Shinji tidak akan pernah tahu seberapa dalam Andreas masuk ke dalam sumur neraka dunianya. Shinji tidak tahu, karena ia hanya menyaksikan kematian-karena-serangan-mendadak dan kematian-karena-ia-dilindungi. Ya, Shinji hanya melihat, dengan mata kepala sendiri, betapa kejadian yang hanya berlangsung kurang dari dua menit itu ternyata berhasil menyita seluruh waktunya, mungkin, hingga ajal menjemput.
Yang Shinji tidak tahu adalah bagaimana rasanya menjadi Andreas, yang mengalami sendiri kematian-karena-kau-membunuhnya. Tubuhnya dibanjiri ciprat kemerahan ketika tangan kekarnya menggapai dua tubuh limbung yang jatuh ke tanah itu, mungkin sama seperti Andreas. Tapi tak ada pisau miliknya yang harus Shinji tarik dari kedua tubuh itu... tidak seperti Andreas.
Shinji tidak akan pernah mengerti. Yang Shinji mengerti hanyalah penyesalan... dan sebuah karma.
Karmanya, karena jatuh terlalu dalam untuk Lyra... karena tidak pernah mau mengerti Yuuji... dan yang sekarang, karena tidak mau merangkak keluar sumur deritanya, untuk Freyr.
Mungkin Andreas juga sama. Karmanya, hingga kini lelaki itu harus kehilangan satu lagi perempuan yang selama dua tahun ini, Shinji yakini, selalu menari riang dalam benak Andreas.
Liburan ini tidak akan semenyenangkan seperti perkiraannya. Ia tidak akan destruktif memaki-maki Andreas seperti yang akan Rio dan Leyka lakukan. Ia juga tidak akan memohon-mohon lelaki itu untuk kembali ke Jepang seperti yang akan Asaka dan Akito lakukan. Alih-alih, Shinji tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika ia berhasil bertemu dengan lelaki itu. Marah? Kesal? Melempar kata-kata penghiburan? Semua terasa palsu baginya.
Lalu apa? Apa yang menjadi dasar bagi Shinji, untuk jauh-jauh datang ke negara itu dan kembali menemui punggung kesepian lelaki itu?
****
Shinji mungkin mengira ia tertidur pulas selama perjalanan. Tentu saja tidak. Dan untuk pertama kalinya, Freyr bangga akan kemampuan berakting yang diturunkan oleh ibunya.
Auranya kentara sekali. Shinji ada di sampingnya, tapi seolah pria itu berdiri berpuluh-puluh kilometer darinya. Jauh. Bukan untuk pertama kalinya, namun Freyr tahu bahwa di antara saat-saat kebersamaan mereka, Shinji terkadang menarik diri dengan berbatang-batang rokoknya, mengunci diri, tidak pernah sekalipun membiarkan Freyr masuk.
Padahal Freyr tahu persis jawaban dari pertanyaan paling mendasar yang sering dilontarkan batin pria itu. Freyr tahu, hanya dengan menebak perilakunya, ditambah bumbu cerita manis dari Kanami....
Ah, perempuan itu... sedang apa dia sekarang di dunia bawah?
Seketika Freyr teringat percakapannya belum lama ini bersama Kanami. Di kamar apartemennya. Malam itu Kanami menawarkan sepotong tuna tataki untuk ditukar dengan semangkuk sup bening asparagus kesukaannya.
"Sebagaimana kita yang deketnya sampai kayak gini tapi engga pernah saling suka satu sama lain... pasangan kita juga sama loh, Fre."
"Err... maksudnya?"
"Hush, jangan mikir macem-macem! Intinya sih, yah... Andreas dan Shiozaki-kun itu mirip-mirip... eh, sama malahan!"
"Oh, ya? Mirip darimana? Emang Andreas hobi ngomong sarkas, sinis, susah senyum, dan hobi ngerokok?"
"Engga. Tapi dua-duanya punya kecenderungan menarik diri, balik ke sumur gelap masing-masing meski engga pernah lagi turun ke dasarnya."
"Kayak monyet, gitu? Gelantungan di bibir sumur?"
"Hahaha...!! Bisa jadi."
Freyr tersenyum tipis. Kalau memang ia sedang tidur, mimpinya barusan berhasil menghangatkan sekujur tubuhnya, dibalut kenangan.
.
"Karena menurut aku ya, Fre... Shiozaki-kun itu bukan ngejar punggung Andreas. Dia ngelihat... dirinya sendiri dalam Andreas. Dirinya yang engga mau maju, engga mau ngejar kebahagiaan. Dan kalaupun bener-bener ngejar, itu semua demi mengembalikan dirinya sendiri, seutuhnya, jawabannya dalam mencari caranya meraih kebahagiaan."
No comments:
Post a Comment