"Di antara hitam dan putih?"
"Ya. Dan segala hal di dunia tidak ada yang benar-benar putih dan benar-benar hitam."
"Lalu mengapa Tuhan menciptakan malaikat dan iblis?"
"Karena kita hidup di dunia, Sayangku. Dunia adalah abu-abu. Manusia itu pula abu-abu. Lain ceritanya jika kau hanya memiliki kartu kependudukan surga atau neraka saja."
"Manusia tercipta di antara malaikat dan iblis?"
"Karena manusia adalah makhluk sempurna dari keduanya, Sayangku. Sempurna karena memiliki hitam dan putih itu dalam bejana raga yang sama."
"Bagaimana jika di matamu hanya terdapat satu warna saja, antara hitam atau putih?"
"Berarti kau hanya punya satu unsur dalam dirimu. Silakan pilih. Unsur itu dinamakan Id dan Ego. Ada pula yang menamainya Logika, Nurani, dan Napsu."
"Yang mana yang hitam dan yang mana yang putih?"
"Tidak ada yang tahu, Sayangku. Karena, sekali lagi, manusia adalah abu-abu. Lima macam nama itu bahkan tidak sanggup manusia definisikan mana putih dan hitam."
"Kalau abu-abu tercipta dari hitam dan putih, kenapa manusia tidak bisa memisahkannya?"
"Memang kau sendiri tahu, abu-abu milikmu itu terdiri dari berapa persen putih dan berapa persen hitamnya?"
"...."
"Bergembiralah, Sayangku. Kita adalah manusia yang mengerti tentang abu-abu di sekeliling kita. Polikromatik putih-hitam yang tidak akan pernah, sekalipun, kau menemukan dunia hanya dilukis Tuhan oleh putih dan hitam tanpa tercampur setitik pun. Tuhan sangat menyayangi manusia. Tuhan tidak membiarkan kedua warna ini saling mendominasi untuk kemudian saling meniadakan satu sama lain."
"Lalu... apa jadinya mereka yang hanya melihat hitam atau putih?"
"Itu adalah keputusan mereka. Dan klise adalah di mana kau turun tangan untuk mencampur kedua warna itu di hadapan mereka."
"Jadi mereka, tidak bahagia?"
"Bahagia adalah dengan menerima. Bahagia adalah dengan bersyukur. Apa jadinya jika kau menampik kodratmu? Akankah kau bahagia, Sayangku?"
No comments:
Post a Comment