Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________
Desing nyaring pedang yang menggasak roda papan seluncur. Berkali-kali. Tanpa henti. Entah sudah yang ke berapa kali atau sudah berlangsung selama berapa jam. Izumo dan Seri bahkan sudah jengah dan terlalu lelah untuk menghentikan adu jotos kelas kakap imbisil tersebut.
Ditambah lagi, hari ini pertengkaran 'Monyet vs. Gagak' itu konon katanya ditengarai oleh lontaran kalimat seenak jidat dari si tersangka Monyet Bodoh yang tiba-tiba saja bertandang ke apartemen Gagak Temperamen, khusus untuk menyampaikan patah-patah katanya dalam bentuk bisikan di daun telinga si Gagak.
"Ne, Misaki... seandainya kau perempuan, kau sudah kunikahi sejak dulu."
Maka jangan heran kalau satu detik setelahnya seorang Fushimi Saruhiko lantas dihujani lemparan sendok, garpu, pisau daging, penggorengan, katel, penanak nasi, sampai kompor listrik. Tidak puas dengan aksi melempar-seisi-apartemen pada si tersangka yang melarikan diri dengan setelan wajah mesum, Misaki menyambar papan seluncurnya dan mengejar Saruhiko ke jalan.
Terjadi lagi. Ya, entah sudah berapa kali, dan warga Kota Shizume sendiri sepertinya sudah terbiasa dengan 'kiamat kecil' di kota mereka.
****
'Seandainya kau perempuan....'
Misaki menggeleng-gelengkan kepala, bahkan hampir bermaksud membenamkan kepalanya ke tembok terdekat. Karena kalimat bisikan penuh gelegak menggairahkan yang terus menghantuinya, tanpa ampun.
'Seandainya kau perempuan, kau sudah....'
....
"AAAAAAAAARRGHHH MONYET SIAALLAAAAANNN...!!!!"
--bugh!!
Kepalanya telak menghantam sesuatu. Sayangnya benda empuk, bukan benda keras semacam tembok atau meja.
Oh, rupanya ada yang sengaja melemparkan bantal padanya agar tembok apartemennya tidak jadi berlubang seukuran kepala batunya.
"Berisik, Mi--sa--kiiii~~... kau tidak lihat aku sedang kerja?"
"TAPI KENAPA KAU HARUS KERJA DI APARTEMENKU, DASAR KAU MONYET--"
Dan Misaki tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Berterima kasih pada eksistensi benda lembut yang dingin dan menyegel erat bibirnya rapat-rapat. Jarak di antara ia dan Saruhiko yang raib dalam satu manuver dari Saruhiko. Misaki tidak bisa bernapas. Wajahnya merona sejadi-jadinya.
Namun Misaki juga tidak melawan. Tidak bergerak. Hanya terdiam. Membisu.
Menikmati.
....
"Sa--Saru... sudah, ah.... Kau 'kan sedang kerja...."
"Heeee... mengaktifkan mode tsundere-mu ya, Mi--sa--kiiii? Lagipula, siapa tadi yang menggangguku terlebih dahulu dengan niatan membuat tulang tengkorak retak sembari meneriakkan nama salah satu penghuni kebun binatang? Kau jahat sekali, Mi--sa--kiiii...."
"Haaaahh.... Iya, iyaaa, aku minta maaf.... Sudah, aku mau berangkat kerja sambilan. Kalau kau mau pulang ke asramamu, kuncinya letakkan saja di pot bunga seperti biasa. Jam kerjaku sampai toko tutup jam sebelas, jadi kau tidak perlu menungguku."
"Hmmm...."
"... ne, Saru?"
"Ya?"
"... tidak. Tidak jadi. Nanti saja. Sudah, ya...!"
--blam!!
****
Misaki ingin menyangkalnya. Menyangkal segala rasa manis dan pahit yang menggeliat di benaknya, yang melahirkan jutaan kepakan kupu-kupu yang melilit di perutnya. Rasa yang selalu hadir dan menyeruak setiap kali pemuda itu hadir dalam dunianya, tersebut namanya dari sudut otaknya, maupun imaji yang kerap kali memenuhi isi otaknya, mematri figur itu ke manapun Misaki menoleh dan melangkahkan kaki.
Yang jadi pertanyaan... bolehkah?
Atau malah... bisakah?
Karena pada kenyataannya, ketika Misaki pulang kerja begitu larut seusai ritual pertengkaran mereka siangnya, tidak seperti biasanya, Saruhiko belum beranjak dari apartemennya. Dan pemuda itu menyambutnya, dengan lengkung hangat di antara kulit pucat itu, disertai aroma menggoda sup miso dan ramen rasa kari yang Misaki ingat betul belum tercium ketika ia pergi dari apartemennya tadi.
Rasa itu kembali menyeruak. Membutakan matanya. Mengisi jiwanya. Menguapkan lelah raganya.
Misaki tidak bisa menahan bibirnya untuk melengkungkan sebuah senyum yang sama.
****
"Jadi, tadi kau mau tanya apa?"
"Heh? Tanya... yang mana?"
"Yang sebelum kau berangkat kerja."
"... ha? Memang tadi aku mau tanya apa?"
"...."
"...?"
"...."
"...?"
"... Misaki, kau ini benar-benar...."
****
'Kau janji, tidak akan pernah meninggalkanku, lagi?'
'Ya.'
'Kita akan memulai semuanya lagi, bersama, tanpa peduli akan status klan kita?'
'Ya. Dan aku ingin kau berjanji satu hal padaku.'
'Apa?'
'Jangan pernah tinggalkan aku, lagi.'
'Ya.'
Aaaahhhh!!!yang ini!yang ini bagusss! "Janji tidak akan pernah tinggalkan ku lagi",please!!diminta kalau missing king nanti akan ada kalimat yang terpacul dari mulut salah seorang dari mereka berdua!
ReplyDelete