Terkadang, kau masih bisa menemukan kepak sayapnya, hinggap di puncak tertinggi pohon ara. Terkadang, kau masih sanggup menemukan sosoknya, terduduk gagah dengan sebelah kaki menjuntai turun pada satu-satunya lubang pohon pada ara menjulang hingga angkasa itu.
Dan seringkali, senyumnya akan menyapamu, ketika ia melompat turun dari dahannya untuk menyapamu di kaki pohonnya.
"Kau masih mencariku? Merindukanku?"
Kau hanya bisa menatap nanar pada sepasang mata elangnya yang tajam namun merapuh.
"Kau tahu kau akan selalu menemukanku di sini. Aku akan selalu ada."
Sementara kau hanya diam terpaku. Lidahmu kelu. Tubuhmu kaku.
Dan ketika ia merentang lengannya untuk kemudian membungkusmu dalam satu dekap penuh jalaran rasa semu, sesuatu dalam dadamu akan menyesak. Sakit yang meluap. Air mata yang kemudian tanpa kau sadari tumpah meruah.
Satu kecup di keningmu.
Saat itu kau akan tahu.
Saat itu, dia mencintaimu.
"Sampai jumpa di mimpimu yang lain. Jangan pernah mencariku ketika kau membuka matamu nanti."
Dan saat itu kau akan tahu.
Sampai nanti, dia akan menunggumu. Dalam keabadiannya.
No comments:
Post a Comment