Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________
Aura merah dan biru.
Merah yang indah, berbaur bersama biru yang sama-sama cantik.
Meski terasa begitu salah.
Merah itu tidak seharusnya berada di sana.
Tidak seharusnya menggema bersama biru.
Aura merah dan biru.
Sosok pedang agung biru menghiasi langit malam.
Hari itu hujan.
Sementara tetesan hujan yang seolah memburamkan keping-keping pecahan sang pedang agung.
Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Ganas.
Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Sekujur tubuh gemetaran.
Tangan pucat yang memeluk tubuhnya sendiri.
Jatuh.
Si pemilik pedang jatuh.
Dalam dukanya.
Dalam lukanya.
Dalam masa lalu dan--yang menurutnya--adalah dosa baginya.
Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Garang.
Pedang agung yang mengguruh di atas kepala.
Keping-keping yang terserak. Pecah. Berantakan.
Siap menghantam bumi.
Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Jatuh.
Berteriak.
Menyambut pedang agung yang meluncur turun dari langit.
****
"Tidak biasanya kau datang ke kantorku dan setengah memaksa untuk mengadakan pertemuan denganku, Raja Merah."
Anna terdiam. Meski sepasang rubinya tajam menilik ke dalam ungu milik sang Raja Biru.
Reishi tersenyum.
"Ada apa, Anna?"
"... Reishi... belum bisa melepaskan?"
Senyum di wajah sang Raja Biru lenyap seketika. Oh, kedua raja di ruangan itu sudah tahu ke mana arah perbincangan akan bermuara.
Selalu. Tentang orang itu.
"Ah, aku tentunya tidak bisa berbohong di hadapanmu bukan, Anna?"
"Reishi sudah cukup berbohong pada diri sendiri. Juga pada Seri. Pada Saruhiko. Pada Izumo. Maupun anak buahmu sendiri. Reishi... masih mau berbohong?"
Sakit. Rasa itu menjelma di benak sang Raja Biru.
Satu gerakan cepat. Anna setengah berlari, mendekati Reishi, untuk menubrukkan tubuh mungilnya pada sang Raja Biru yang masih duduk tenang di singgasana kebesarannya.
"... Anna...."
"Lepaskan Mikoto, Reishi... Mikoto ingin Reishi hidup... dan bahagia.... Makanya Reishi... makanya...."
Satu desah napas. Sebentuk senyum yang dipaksakan. Namun rasanya teramat pahit.
Tangan Reishi yang kemudian balas mendekap sang Raja Merah. Menyesap hangat dari merah yang nyaris berkelit kabur dari sudut ingatannya.
"Maaf, Anna. Tapi aku... sudah tidak tahu lagi apa arti kata bahagia itu sendiri...."
.
'Karena aku menolak untuk bahagia tanpa dirinya.'
.
No comments:
Post a Comment