20140214

Re:trace #4

"Malem, Kak."

"Malem. Oh, kalian anak kelas satu C, ya? Dulu waktu masa orientasi, sama gue, 'kan?"

"Hehehe, Kakak masih inget aja."

"Iya. Tapi maaf ya, gue lupa lagi nama lo. Kalau yang ini sih, Teru, 'kan?"

"Santai, Kak. Gue Zen. Tapi kok Kakak masih inget aja sama Teru?"

"Yah, gimana bisa lupa? Hari pertama orientasi aja dia udah tag team sama Rio, bikin rusuh di koridor kelas tiga, entah ngapain sampai koridor kebanjiran air dari WC."

"Hahaha...! Ya, engga apalah, Kak. Boleh 'kan, anak kelas satu udah numpang tenar di antara pengurus OSIS? Hehehehe...."

"Lo kalau mau tenar ngajak-ngajak dong, Ter. 'Kan lumayan buat gue cari jodoh."

"Emang kalian minat sama yang lebih tua?"

"Engga, Kak. Gue sih... lagi ngincer yang seangkatan dulu aja."

****

Serentetan kalimat itu berdenging di telinga Andreas, padahal sudah berbulan-bulan lamanya dan mungkin si pelontar kalimat pun sudah lupa. Atau hanya Andreas saja yang menolak untuk melupakannya. Toh imaji tentang pandang mata yang kemudian dijatuhkan pemuda kemarin sore itu pada gadis pujaannya terasa begitu manis dan nyata. Atau... hanya Andreas saja yang menolak untuk merekam adegan itu sebagai sebuah kenyataan pahit.

Ditambah lagi dengan lembar demi lembar formulir pendaftaran kepengurusan MPS...(i) yang baru saja disodorkan si ketua MPS ke tangannya. Andreas tiba-tiba saja merasa ruang OSIS di sekelilingnya berputar dalam spiral.

"Jadi gimana, Ndre? Calon-calon angkatan di bawah kita, potensial semua, 'kan?"

Andreas memaksakan sebuah senyum standar khasnya. "Dari prestasi akademik selama semester satu sih oke, semuanya di atas rata-rata. Dari keaktifan di ekstrakurikuler juga sama...."

"... tapi? Kalimat lo itu belum beres, Ndre."

Kali ini Andreas bisa sedikit menghela napas lega. Dia sudah tidak lagi bertanya berapa banyak orang yang memiliki kelebihan seperti Nandi dalam membaca isi pikiran manusia lain. Atau hanya Andreas saja yang terlalu transparan dan gampang ditebak--setidaknya, itulah yang berkali-kali temannya ini katakan padanya.

Pemuda itu, Dityo, kemudian tertawa lantang. "Gue temenan sama lo dari SMP, dan keliatannya lo engga pernah memperhitungkan gue sebagai orang yang deket sama lo, selain adik-adik asrama lo itu," ujar si pemuda, yang lantas melanjutkan, "Jadi lanjutannya gimana, Ndre? Ada yang lo rasa engga cocok dari calon-calon ini?"

"Bukan itu. Gue malah mengharapkan beberapa dari nama ini yang justru ngisi pendaftaran pengurus OSIS, bukan MPS."

"Hahahaha...!! Oportunis, lo! Terus, nama yang mana aja yang lo harepin sampai sebegitunya untuk masuk OSIS? Dan alasan lo? Jangan bilang semata-mata alasan pribadi?"

"Ngawur. Gue cuma merasa tiga orang ini akan lebih maju di OSIS, dan beberapa bidang OSIS pun butuh orang-orang dengan kapabilitas seperti mereka. Yang dua, gue udah tahu potensi mereka dari SMP, sementara yang satu dulunya anak didik gue waktu dia orientasi. Jadi gue tahu persis tiga orang ini lebih dan kurangnya ada di mana."

Andreas menyodorkan balik tiga set formulir pendaftaran pada Dityo, menyambut raut penasaran dan sorot mata lekat Dityo yang kemudian menyisir seksama lembar-lembar kertas itu.

Nararyana Areswata.

Nandini Areswari.

Adriantama Zein.

Andreas menangkap kikik geli yang disembunyikan oleh temannya itu. "Kalau Nara dan Nandi, kayaknya gue bisa setuju sama argumen lo. Tapi yang terakhir ini...."

Tersenyum simpul, Andreas menjawab dengan mantap. "Anak ini harus ada di OSIS. Harus dia yang jadi pengganti gue, bukan orang lain."

"Taking interest, eh, Ndre?"

Senyum simpul lainnya. Atau hanya Andreas saja yang ingin menguji bocah ingusan itu sampai ke jurang batas yang tidak bisa lagi digapai. Sampai Andreas tahu apa yang menjadi dasar pemuda itu. Sampai segala kejanggalan dalam deru laju logikanya terjawab dengan formulasi yang menghasilkan solusi pasti.

Sampai Andreas benar-benar yakin bahwa saingannya ini bukan sekedar bocah kemarin sore yang tidak patut diperhitungkan namun mampu kapanpun untuk merebut mimpi yang digantungnya membumbung tinggi di langit.

****

"Yang tadi... maaf, ya. Kalian lagi jalan dan aku malah maksa kalian pulang."

"Engga apa-apa. Aku juga sebetulnya engga begitu nyaman dengan acara kayak gitu. Apalagi Nara, mukanya udah asem banget, aku sampai engga tega. Tapi mau pulang duluan juga engga enak sama Rio yang udah ngajak main."

"Hahahaa... masih lebih nyaman jalan berlima, ya?"

"Iya. Tuh, Kakak tahu ternyata. Bahaya nih... kita udah keseringan pergi berlima, sulit banget untuk keluar zona nyaman."

"Nikmatin aja dulu. Dan aku udah nyuruh kamu berkali-kali untuk engga manggil aku pake embel-embel 'kakak' lagi, 'kan?"

"Hehehe... maaf, kebiasaan. Takutnya canggung."

"Geli tahu, saking kelamaan kalian panggil pake embel-embel itu."

"Segitunya engga pengen jadi kakak ya, Ndre?"

"... iya. Apalagi kalau jadi kakak kamu, Ndi... ogah banget."

"Terus, maunya jadi apa?"

"... Ndi, stop, please, jangan tatap mata aku atau--"

Cklek!

"... selangkah lagi lo deketin Kakak, karena gue engga peduli lo siapa, Andreas...."

"...."

"...."

"... oke, masuk ke dalem, yuk. Angin malem, engga bagus buat badan, nanti masuk angin. Dan Nara, tolong, itu beretta buat nembak monster jejadian, bukan buat bolongin kepala gue."

_________________________________________________________________________________


(i)... MPS, singkatan dari Majelis Permusyawaratan Siswa, mungkin nama lainnya MPK (Majelis Perwakilan Kelas atau Majelis Permusyawaratan Kelas... selama sekolah dulu penulis nemu dua jenis akronim ini, tergantung sekolahnya masing-masing meski definisinya sama aja). Ibarat presiden dan MPR, OSIS itu presiden dan MPS itu MPR-nya.

No comments:

Post a Comment