20140214

Re:trace #5

Zen? Seorang pemuda pecicilan sekelas Teru dan Rio yang hobi balapan liar sebulan sekali di akhir minggu? Jangan salah. Itu semua hanyalah akal-akalan si pemuda tanggung untuk menyembunyikan wajah yang sebenarnya.

Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang perlu tahu, bahwa Zen lahir di kalangan keluarga elit penyandang status dokter spesialis kawakan dengan gelar merepet layaknya kereta api mengikuti nama. Tidak ada yang perlu tahu bahwa Zen besar di lingkungan serba sempurna dan ideal yang bahkan Zen sendiri tidak paham mana realita dan mana pembohongan besar yang didalangi orang tuanya. Tidak ada yang perlu tahu bahwa tidak mudah menjadi Zen, yang dicekoki segudang prestasi sang bapak dengan gelar profesor di pertengahan kepala empat dan sang ibu yang sibuk mengajar dari kampus ke kampus. Oh, jangan lupakan sang kakak sebagai penyabet predikat setan-kelas-percepatan dan berhasil lulus sebagai sarjana kedokteran di usia dua puluh tahun.

Zen membencinya. Zen merutuki setiap kerlap-kerlip kesuksesan yang bertebaran di sekelilingnya layaknya cerita novel tidak laris yang selalu berakhir mulus tanpa konflik. Zen telah memulai ritme hidupnya sendiri, di mana stress dan depresi stadium empat akan menghadangnya di setiap pergantian jenjang pendidikannya, sementara tahun-tahun di antaranya ia habiskan dalam tawa dan pongah polos untuk membayar semua makian terpendamnya.

Zen yang riang. Zen yang senang bergaul. Tidak perlu ada yang tahu sosok Zen yang destruktif di kala menghadapi ujian kenaikan kelas atau kelulusan sekolah.

Sampai ia bertemu seorang Dylan Satrio Paramadireja yang hidup berkecukupan di asrama bersama empat orang temannya. Sampai ia menghirup sejumput kata iri pada kehidupan Rio yang bebas dari tuntutan nilai akademis tinggi. Sampai ia mengecap segudang kata simpati dan empati pada kehidupan Rio dan keempat temannya yang jauh dari lingkaran bernama keluarga, lalu iri itu akan datang lagi karena bentukan lingkaran pertemanan Rio di asrama yang seolah mampu menggantikan ruang kosong bernama keluarga itu. Berkali-kali Zen berusaha mendekati lingkaran itu, namun berkali-kali pula Zen terpental dan hanya mampu melihat dari luar.

Ada hal yang janggal namun unik yang Zen tangkap dari hubungan antara Rio, Leyka, Nara, Nandi, dan seniornya, Andreas. Rasa kesalnya karena tidak pernah bisa membaur sempurna dalam lingkaran itu yang silih berganti dengan rasa kagum dalam pacuan adrenalin. Ia kesal, tapi juga senang di saat bersamaan. Menggapai lingkaran terdalam itu masih menjadi hasrat terpendamnya, setidaknya itulah tujuan di tahun pertamanya di bangku SMA untuk melarikan diri dari tuntutan demi tuntutan yang sudah duduk manis menunggunya dua tahun ke depan.

Hingga di ujung pencariannya, ia bertemu dengan senior itu. Senior serba sempurna yang selalu mengingatkan Zen akan kesempurnaan sang bapak dan kehidupan-yang-seharusnya-ideal miliknya. Senior yang lebih sering menerbitkan awan-awan kekesalan namun berpadu dalam balutan adrenalin menghentak.

Zen ingin bisa melebihi seniornya itu. Tapi, bisakah...?

Dan Andreas nyatanya memang sudah memegang kartu jawaban Zen itu erat-erat di genggaman.

****

"Lo... engga mau coba jadi Ketua OSIS tahun depan, gantiin gue?"

"Haha, Kak Andre bercanda. Orang kayak gue? Ketua OSIS? Lo mimpi buruk ya semalem, Kak?"

"Engga. Gue ngomong kayak gini sama lo juga sambil melek, Zen. Toh, gue sama lo juga engga beda jauh, 'kan? Gue bisa dan sanggup, kenapa lo engga?"

"Sama di mana? Gue engga serba bisa seperti lo, gue engga--"

"Lo bisa, dan kata siapa lo engga bisa untuk serba bisa kayak gue? Lo bukannya engga bisa, tapi engga mau."

"... bedanya?"

"Gue tahu latar belakang keluarga lo, Zen. Dan lo pikir, sekolah ini nerima murid sembarangan gitu aja? Lo pikir orang yang engga punya talenta bisa masuk sekolah ini? Gue di sini udah mau lima tahun, dan gue engga pernah nemu satupun murid di sini yang engga punya talenta dan potensi di bidang mereka masing-masing. At least tiap murid punya satu bidang yang mereka kuasai dan masing-masing akan giat di bidang itu. Dan lihat diri lo sekarang. Lo tidur di kelas dan ngerjain PR pakai acara nyontek punya Rio aja lo masih bisa peringkat tiga besar di kelas dan lima besar di angkatan. Lo aktif menyampaikan pendapat dan aktif cari temen. Itu potensi diri lo yang bahkan lo anggap itu sebagai topeng lo doang."

"Jadi intinya, gue sukses bohongin dan bertopeng depan orang lain? Atau malah gue sukses bikin topeng yang bagus banget sampai bisa nipu orang abis-abisan kayak gitu?"

"Lo engga mungkin bisa bikin topeng yang beda total dari pondasi muka asli lo, Zen. Dan lo engga mungkin bikin cetakan topengnya dari wajah orang lain yang berbeda dari wajah lo, karena lo sangat nyaman dengan topeng lo yang sekarang ini."

"...."

"Kena telak, ya? Yah, pikirin aja kata-kata gue barusan. Toh lo baru aja dapet wejangan dari seorang ahli topeng yang lagi mati-matian berusaha bikin topengnya yang dari pondasi wajah orang lain ini nyaman dipakai di muka sendiri."

"... heh, lo nopeng juga ternyata, Kak?"

"Harus, Zen. Semua orang butuh topeng, gue pun engga memungkiri hal itu."

"Dan lo nasehatin gue sementara lo sendiri engga nyaman dengan topeng lo, Kak?"

"Iya. Aneh, ya? Anggap aja gue sebagai sebuah stase di atas lo, bayangkan ketika lo nanti harus pakai topeng tuntutan-tuntutan keluarga lo itu di wajah lo. Keadaan gue kurang lebih sama."

"Lah, gue sih engga mau. Berat banget."

"Nah, lo engga mau, 'kan? Itu bedanya gue sama lo, dan yang jadi kelebihan buat lo dibandingin gue yang lo anggap serba bisa ini."

"... dan tentang apa yang ada di antara lo, Rio, Nara, Leyka, dan Nandi... gue sama sekali engga akan bisa tahu, ya?"

"... ya. Lo engga akan pernah bisa masuk. Bahkan engga akan pernah ada yang bisa."

"Jadi, gue harus nyerah soal Nandi?"

"... maaf, tadi lo bilang apa...?"

"Engga, engga jadi. Masih ada yang mau Kak Andre omongin sama gue, engga? Kalau engga, gue mau balik ke klub basket, udah telat pemanasan sepuluh menit."

"Oh, oke. Sorry gue pakai waktu latihan lo. Nanti gue mintain izin ke pembinanya deh."

"Engga perlu, Kak. Oh ya, boleh ngomong satu hal lagi?"

"Silakan."

"Gue engga kenal kata nyerah. So, kalau ada apa-apa, gue akan terobos masuk dan ngambil dia dari lo, sip?"

"...."

"Udah ya, Kak. Gue permisi dulu. Trims banget pencerahannya...!"

"... tunggu--"

Blam!

No comments:

Post a Comment