Intinya, ini sama saja dengan kegiatan main-bersama dengan personel minus Andreas yang digantikan oleh Zen dan teman sekelas Zen yang lain, Teru. Dari yang berhasil Nara curi-dengar tanpa perlu bersusah payah, tema kencan buta hari ini adalah mengakrabkan Rio dan Leyka diikuti dengan pendekatan berkala antara Zen dan Nandi. Teru hanya numpang senang saja di sana, sebagaimana Nara yang mau tidak mau ikut menjadi korban numpang-memisuh sepanjang acara.
Untuk agenda pertama, Nara masih bisa tidak acuh dan tidak ambil pusing. Namun untuk agenda kedua, tentu saja. Tidak perlu lagi ada izin darinya untuk sang kakak mengikuti kencan-kencan buta selanjutnya.
Nara sendiri tidak paham apa yang terjadi, namun setelah menjejak lima belas tahun sang kakak nyatanya telah berubah menjadi ratu lebah yang sanggup mengundang berbagai jenis lebah pejantan untuk berlomba-lomba membuat sarang nyaman penuh madu cinta bersama sang kakak. Nara sudah tidak peduli apa yang terjadi, namun sudah menjadi tugas utama bagi Nara sebagai lebah penjaga ratu lebah untuk tidak sembarangan membiarkan sang ratu disengat lebah-lebah pejantan bau kencur. Menjaga Nandi dari Andreas saja sudah setengah mati rasanya, lalu sekarang Nara harus berhadapan dengan lebah pejantan besar kepala dengan degung sayap berisik seperti Zen. Kalau saja bukan karena ancaman undangan-kencan-buta-lanjutan-dari-Rio-untuk-Nandi dan tatapan maut sang kakak yang memintanya untuk bersikap sopan, mungkin Nara bisa memastikan Zen terpotong-potong rapi dan hanyut tenggelam di dasar Pelabuhan Tanjung Priok.
"Adek lo kenapa, Ndi? Lagi sakit, ya?" tanya Zen, kentara sekali berusaha terdengar ramah dan perhatian di ujung telinga Nara.
"Hahaha... engga kok, mukanya dia emang kayak gitu."
"Mukanya Nara kenapa? Asem? Ha, lo harus hidup tiga tahun dulu sama dia baru tahu dia punya ekspresi muka kayak gimana aja, Zen."
Celetukan Rio, sontak membuat satu tatapan maut dari pupil kucingnya menusuk tajam pada pemuda kontet itu. Sudah cukup Rio ikut campur dengan ritme hidupnya dan Nandi. Sudah cukup Rio mengganggu kedamaian di sarang lebah mereka. Sudah cukup Rio melemparkan celetuk-celetuk jahil yang menyengat panas di telinganya.
Bahkan, sudah cukup Rio menggeser-geser tempatnya di sisi Nandi untuk kemudian digantikan lebah pejantan lain... entah Zen, maupun Andreas sekalipun.
****
"Ndi, temennya Rio... lumayan juga, ya?"
"Siapa, Ley? Zen, maksudnya? Atau Teru?"
"Yah... aku mah kagak demen sama yang pecicilan macem anak monyet begitu, Ndi."
"Jadi, Zen...? Hmm... lumayan, sih. Kamu minat sama dia?"
"Yaa, anaknya asyik sih diajak ngobrolnya. Tapi kayaknya dia interest-nya sama kamu sih, Ndi. Meper banget kayaknya ke kamu."
"... tuh 'kan, Kak. Bukan aku aja yang ngerasa kayak gitu."
"Hahaha.... Maaf ya, kalian berdua."
"Jadi, Zen itu pelarian lo dari Andreas?"
"... ah sumpah nih mata kucing satu minta dipites banget. Engga usah bawa-bawa luka lama, bisa?"
"Terus, Rio mau lo kemanain, Le?"
"... kok, Rio? Apa hubungannya...?"
"Woi!! Ngomongin apa kaliaaan...? Tega lah, gue engga diajakin gini, padahal gue yang ngajak kalian ke kencan buta."
"Nanti, Yo. Di asrama."
"Oh. Oke, Ra."
"...."
****
Akhir pekan. Kencan buta. Dari bioskop, restoran fast food, toko buku, game center, hingga berakhir di toko cokelat dan permen penuh warna merah jambu. Jam tujuh malam. Nara semakin memantapkan hati untuk tidak lagi mengikuti kencan buta di lain hari.
"Kalian pulang sama siapa? Kalau engga ada kendaraan, mobil gue kosong, sih. SIM tembak tapi, hehehe...."
Sebuah tawaran dari Zen yang membuat wajah Nara memerah sampai telinga.
Meski surga sepertinya berkata lain... ah, Nara sebetulnya tidak tahu apakah ini merupakan suatu pertolongan dari surga ataukah ternyata tantangan perang baru dari neraka. Karena tepat ketika Rio bersikeras mereka akan pulang ke asrama menggunakan metro mini, tiba-tiba saja sosok lain sudah bergabung di antara mereka. Seorang pemuda berparas tampan, berpostur tinggi tegap dengan helai-helai rambut hitam legamnya mampir membingkai wajah bergaris lonjongnya.
Andreas.
"Di sini toh kalian rupanya. Udah pada beres? Gue baru banget dari Gramed. Kalau udah pada mau balik, bareng aja, gue bawa mobil."
Tatapan nanar dari Zen. Bongkah-bongkah mengganjal di benak Nara setidaknya terangkat sedikit. Ya, hanya sedikit. Sayangnya.
"Gue sih terserah. Yang lain, gimana?"
"Gue ngikut Nandi."
"Gue juga sama, ngikut Kakak."
"Ndi, jadi?"
Perlu waktu beberapa detik untuk ruang dan waktu menghampa di antara sorot mata Nandi dan Andreas. Seolah membekukan jarak di antara mereka. Seolah mengembuskan derak napas setajam jarum es di paru-paru Nara.
"Pulang aja, engga apa-apa? Agak engga enak kalau pulang kemaleman. Dari Pondok Indah ke Tangerang juga lumayan jauh, 'kan?"
Suasana yang sedetik menjadi canggung, yang dengan lihai disamarkan Rio dan Zen menjadi tepukan pamit dan ucapan sampai-bertemu-lagi-di-sekolah. Namun tak bisa melupakan sebuah perkenalan singkat diiringi tatapan berarti lain di antara dua lebah pejantan yang baru saja memulai ronde pertama perebutan cinta sang ratu lebah.
Nara, si lebah penjaga sang ratu lebah, harus semakin mengasah sengat dan sayapnya untuk terbang lebih cepat dan menukik lebih tajam dari biasanya.
No comments:
Post a Comment