20110723

Encore


Nocturne for Violin and Piano (Chopin)

Kedai minum mulai sepi pengunjung. Malam melarut. Hanya tinggal satu dua yang masih melepas lelah sembari sesekali menyesap apapun pesanannya dalam-dalam. Seorang wanita muda berkacamata persegi dengan laptopnya, dan seorang pria paruh baya dengan ponsel di genggaman. Dua orang itu, tampak serupa dengannya. Tak acuh pada malam yang makin jelas wajahnya.

Karena sang malam milik siapa saja. Tua muda. Pria wanita. Kaya miskin. Siapapun yang ingin bernapas di bawah naungnya. Lantas, cahaya temaram bulan perak yang menggantung pun tak ayal menjadi dambaan.

Ah. Cahaya bulan.

Piano Sonata no. 14 in C Sharp Moonlight (Beethoven)

Sebuah lagu diputar memenuhi seluruh ruangan beraksen kayu itu. Lagu yang kemudian untai nadanya memerangkap gendang telinga Aksara. Ia terdiam. Terjebak dalam irama yang—baginya—terasa pilu. Membawanya pada kedalaman dekap ilusi. Tirai-tirai memori yang tak seharusnya lagi ia singkap.

Aksara tahu. Seperti membuka kotak Pandora. Hal yang akan menjadi malapetaka jika ia tidak siap untuk kembali meraihnya.

Berbicara tentang hal yang pernah hilang. Banyak orang mengumbarnya. Tahu sedalam apa pedihnya. Namun di bibir, Aksara mencemooh. Mereka tahu apa?

Ah, sejak kapan perasaannya berubah menjadi sentimentil seperti ini? Apakah pengaruh irama yang menyeruak disisipi aroma robusta di hadapannya itu?

Clair De Lune (Debussy)

Lagu kemudian berganti. Kini nada-nada merdu yang mengalun. Denting-denting piano menggelitik. Manis.

Aksara teringat. Ada jemari lentik yang pernah mencoba memainkannya. Sudah lama sekali berlalu. Ingatannya lantas melayang, pada suatu sore dengan riuh gemericik hujan seolah ingin mendobrak langit-langit ruang kesenian di sekolahnya dulu. Sore hari mendung di mana dirinya dan si pemain lagu tersebut terjebak di tengah hujan. Piano usang berdebu di sudut ruangan menjadi peneman keduanya. Tertatih dan tidak rapi. Namun si pemain lagu itu tetap berusaha menyelesaikan rangkai nada-nadanya.
Satu lagu. Satu senyum manis penuh kebanggaan mengembang. Diikuti tepuk tangan Aksara muda. Keduanya tertawa. Sesaat melupakan mendung dan hujan.

Sudah lama. Kenangan yang sudah begitu usang. Namun sama seperti piano tua di ruang kesenian sekolahnya, Aksara tetap menyimpan memori akan orang itu di sudut ruang batinnya yang terdalam.

Canon in D Major for Piano (Pachelbel)

Ah, lagu ini, batin Aksara. Betapa ia mengenalnya. Orang itu selalu memainkan untuknya. Lagu ini, lagu yang sama, dimainkan begitu halus. Bahkan grand piano di tengah kedai minum itu pun pernah merasakan sentuhan jemari lentiknya. Baik pelayan maupun pengunjung tetap kedai itu seringkali menunggu kedatangannya. Menunggu saat di mana musik klasik atau jazz dari pengeras suara digantikan oleh sahutan tuts-tuts piano.

Meski kini, tak ada lagi yang dapat ditunggu. Piano yang berdiri kokoh dan membisu. Musik yang hanya terdengar dari pengeras suara saja.

Sesekali, Aksara melempar pandang pada piano itu. Menunggu. Berharap akan adanya sosok yang kembali bermain dengan tuts hitam putihnya. Siapapun. Siapa saja.

Walau Aksara tahu. Piano itu hanya pernah disentuh oleh satu orang saja. Yang tak akan pernah kembali.

“Masih menunggu?”

Aksara tak sadar. Seorang pria bercelemek berdiri di belakangnya. Menepuk pundaknya pelan. Senyum simpul yang menyapanya.

“Dia tak akan kembali.”

“… aku tahu.”

Pria itu lantas melepas celemek kerjanya, melipatnya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam sebuah ransel berwarna hitam.

“Ayo pulang.”

“Ya.”

****

Kedai minum itu telah sepi pengunjung. Wanita muda berkacamata persegi dan pria paruh baya telah pergi. Lampu kedai dan musik pengiring kemudian dimatikan. Papan yang dibalik. Pintu dan jendela yang ditutup.

Samar-samar, masih terasa wangi kopi dan denting lembut piano memenuhi ruangan beraksen kayu itu.

No comments:

Post a Comment