20111025

Lullaby

Sore itu hujan. Deras. Bagai titik-titik air mengguyur bumi tanpa ampun. Dinginnya pun sampai ke kulit. Tak peduli berapa lapis baju yang dipakai. Tak peduli berapa dekat jarak pada perapian. Secangkir kopi robusta dan teh susu panas mengepul pun tak ayal mendingin dalam hitungan menit.

“Sha, darimana? Kenapa basah kuyup gitu?”

Gemuruh jantungnya masih menderu. Napasnya masih tercekat. Kata-katanya hilang. Ada perih yang begitu mengikat. Namun bibir selalu melengkung senyum. Meski gemetarnya serta-merta mengintip malu-malu.

“Engga apa-apa, aku cuma….”

“Bohong, Sha. Kamu boleh basah karena hujan. Tapi mata kamu juga kayak yang lagi hujan.”

Dan tangan lain lantas mendekapnya. Dua pemilik mata beriris sama, yang sama-sama selalu menyanyikan irama lagu kasih padanya. Kini kedua pasang tangan yang tengah mendekap, lewat raga maupun jiwa.

Ia menangis. Namun bibir tak henti melengkung senyum. Antara dingin dan hangat yang membaur jadi satu. Perlahan, ia ceritakan lukanya.

“Tak selamanya Mentari ingin bersinar lagi. Bolehkah aku… sore ini bersembunyi di pelukan awan-awan menggelap?”


****


“Kakak?”

Lamunan Aksara membuyar. Kepingan-kepingan ingatan itu kembali melebur dalam otaknya.

“Ya?”

“Kok ngelamun? Mikirin apa, hayoo?”

Aksara tersenyum, melihat polah jenaka sang adik di hadapannya. Dua mata beriris sama, yang sama-sama tengah memandang ke luar jendela. Sore hari yang hujan. Hujan bengis tanpa ampun.

“Engga. Cuma inget Asha.”

“Ooh.”

Ah, nama yang sudah mampu diucap dengan lugas. Betapa waktu mungkin telah memulihkan segalanya. Membuatnya kuat untuk kembali melangkah dan mendekap takdir hidup.

Seorang lelaki lantas datang membawakan nampan berisi dua cangkir minuman.

“Ini pesanannya, secangkir kopi robusta dan teh susu panas. Ada lagi pesanannya yang belum keluar?”

“Mau pesen si mas yang bawain pesenannya dong, biar bisa diajak ngobrol bareng. Lagi sepi ini kan, caffee-nya?”

Si pelayan kedai itu tertawa menanggapi celoteh riang satu-satunya gadis yang ada di sana. Sofa yang mulanya kosong itu kini telah terisi. Dan lelaki itu pun turut memandang melewati jendela.

“Coba ada Asha. Pasti makin anget.”

Diam-diam, Aksara mengangguk. Seulas senyum yang terbit. Diikuti gerakan mulutnya yang meneguk tetes demi tetes kopi panas langganannya.

“Kita masih inget dia dalam senyum kayak gini aja, udah bikin dia anget kok, di sana….

_________________________________________________________________________________

judul diambil dari 'Lullaby' karya Bond

No comments:

Post a Comment