“Sha, darimana? Kenapa
basah kuyup gitu?”
Gemuruh jantungnya
masih menderu. Napasnya masih tercekat. Kata-katanya hilang. Ada perih yang
begitu mengikat. Namun bibir selalu melengkung senyum. Meski gemetarnya
serta-merta mengintip malu-malu.
“Engga apa-apa, aku
cuma….”
“Bohong, Sha. Kamu
boleh basah karena hujan. Tapi mata kamu juga kayak yang lagi hujan.”
Dan tangan lain lantas
mendekapnya. Dua pemilik mata beriris sama, yang sama-sama selalu menyanyikan
irama lagu kasih padanya. Kini kedua pasang tangan yang tengah mendekap, lewat
raga maupun jiwa.
Ia menangis. Namun
bibir tak henti melengkung senyum. Antara dingin dan hangat yang membaur jadi
satu. Perlahan, ia ceritakan lukanya.
“Tak selamanya Mentari
ingin bersinar lagi. Bolehkah aku… sore ini bersembunyi di pelukan awan-awan
menggelap?”
****
Lamunan Aksara membuyar. Kepingan-kepingan ingatan itu
kembali melebur dalam otaknya.
“Ya?”
“Kok ngelamun? Mikirin apa, hayoo?”
Aksara tersenyum, melihat polah jenaka sang adik di
hadapannya. Dua mata beriris sama, yang sama-sama tengah memandang ke luar
jendela. Sore hari yang hujan. Hujan bengis tanpa ampun.
“Engga. Cuma inget Asha.”
“Ooh.”
Ah, nama yang sudah mampu diucap dengan lugas. Betapa waktu
mungkin telah memulihkan segalanya. Membuatnya kuat untuk kembali melangkah dan
mendekap takdir hidup.
Seorang lelaki lantas datang membawakan nampan berisi dua
cangkir minuman.
“Ini pesanannya, secangkir kopi robusta dan teh susu panas.
Ada lagi pesanannya yang belum keluar?”
“Mau pesen si mas yang bawain pesenannya dong, biar bisa
diajak ngobrol bareng. Lagi sepi ini kan, caffee-nya?”
Si pelayan kedai itu tertawa menanggapi celoteh riang
satu-satunya gadis yang ada di sana. Sofa yang mulanya kosong itu kini telah
terisi. Dan lelaki itu pun turut memandang melewati jendela.
“Coba ada Asha. Pasti makin anget.”
Diam-diam, Aksara mengangguk. Seulas senyum yang terbit.
Diikuti gerakan mulutnya yang meneguk tetes demi tetes kopi panas langganannya.
“Kita masih inget dia dalam senyum kayak gini aja, udah
bikin dia anget kok, di sana….
_________________________________________________________________________________
judul diambil dari 'Lullaby' karya Bond
No comments:
Post a Comment