20130411

Immortality

Iris biru Leyka melebar sejadi-jadinya, sementara Asaka nyaris memuntahkan lagi seluruh koloid kecokelatan beraroma mocca di mulutnya dari hidung. Bagaimana tidak? Para pasangan masing-masing izin pergi dalam keadaan tertawa-tawa, lalu tiba-tiba saja mereka pulang dengan sesosok tubuh lunglai dengan wajah merah matang terbopong di sisi kiri-kanan pundak mereka.

"Andre kenapa...."

"Tenang aja, Le. Dia cuma mabuk sake lima gentong."

"Ap--apa?! Dia DEWA dan dia BISA mabuk sake?! Astaga...."

"Menurut kamu aja, Sa. Engga mentang-mentang dia titisan dewa terus dikasih sake seratus gentong juga engga mabuk. Metabolisme tubuhnya masih manusia, masih punya limit, toh?"

"Terus... gimana ceritanya sampai dia bisa...."

"Entah. Tapi yang pasti sih, kata si kakek yang punya bar, sambil mabuk dia terus-terusan ngucapin sepatah kalimat."

"... yaitu?"


****


Andreas mencari. Tanpa henti.
Meski di sekelilingnya hanyalah laut penuh keheningan, tak peduli betapa  tubuhnya dijerat rasa panas menusuk, Andreas tetap mencari.

Mencari apa? Mencari siapa?
Yang jelas, ia telah lelah berlari mencari malaikat mautnya.
Toh malaikat mautnya hanya akan datang di waktu fajar, dan tetap kedua tangannya yang menebas leher malaikatnya di setiap penghujung mimpi-mimpinya.

Bukan. Bukan itu. Andreas sudah lama berhenti mencarinya.

Yang Andreas cari kini... adalah ujung dunianya.
Akhir waktunya.
Di mana halte pemberhentian terakhir jarum jamnya yang kini hanya bergulir di tempat.
Dalam stagnansi. Tanpa arti.

"Apa yang kamu inginkan, Ndre?"

Suara Asaka mengalun pelan dalam benaknya. Ah, jadi rupanya ia tidak sendirian di sana. Asaka sudah jauh-jauh meluangkan waktu untuk menemaninya bercengkerama dalam sepi.

"Apa yang kamu cari? Apa yang kamu inginkan?"

"Keinginanku? Cuma satu...."



'Izinkan aku mati sebelum aku harus melihat kalian pergi terlebih dahulu.'

2 comments: