... Whither goest thou, Mylady?
Gelap yang sama. Berulang kali. Suara derap langkahnya yang memantul dalam gulita. Sudah berapa lama ia ada di sana? Bahkan detak jantung jam menggelantung di saku kemejanya pun membisu. Tenggelam dalam gulita senyap.
Whither goest thou? Whither...? Mylady....
Ia berlari. Sejauh langkah dapat membawanya menembus gelap. Kini napasnya tercekat. Paru-parunya yang perih mencari udara segar di bawah cahaya.
Ah... selalu saja mimpi yang sama.... Gelap gulita yang sama. Sesak yang sama....
"Luke... Luke!! Lucas, tolong aku...!"
... mimpi? Benarkah demikian? Mimpi, ataukah kenyataan?
Ia menggeram. Menggertakkan gigi-giginya kuat-kuat. Menahan sakit di dada yang semakin menusuk. Melupakan segala gelegak emosi jauh di benak. Antara manis benci dan pahit rindu.
"Luke...! Jangan--Lucas...!!"
Whither... goest thou, Mylady?
Berusaha keras ia mengingat apa yang terjadi. Memaksakan pita kaset dalam sel-sel otaknya ditarik mundur untuk mempertontonkan layar-layar kenangan. Apa yang tengah dicarinya? Siapa yang tengah dicarinya?
Lucas hanya mampu mengingat suara itu. Dering lembut yang kerap berdendang di ujung daun telinganya. Terasa jauh namun dekat di saat bersamaan. Sedekat ia mendengar suaranya sendiri. Namun sejauh mata yang selama ini tidak sanggup menggapainya.
"Lucas dan Hydros... Luke bukan Hydros, karena aku....
"... aku...."
Cygnia,
Bibirnya kemudian melengkung kecil. Nama yang menggaung di kepalanya seolah menjadi mantra. Ia kini tahu apa yang sedang dicarinya, seorang diri di tengah nihil mengungkung. Sedangkan layar memori di kepalanya yang tengah memutar ulang sebuah tragedi. Ujung tebing, deru laut yang mengganas, dan sosok peri mungil jatuh melayang dilalap gulungan ombak. Peri yang dicarinya. Sumber cahayanya. Akar dari seluruh gulita yang mengepungnya.
Dan Lucas tertawa. Parau. Suaranya yang serak, terdengar nyaring menggelegar dalam kesendiriannya.
Whither goes thou, Mylady?
Mylady...
... Lilica.
No comments:
Post a Comment