20160803

Hutan (di ujung) Sumur #6

Derak dan derapnya merah, menari di belantara hutan rimbanya tak ayal sebatas irama peneman tidur lenanya. Sementara tubuhnya meringkuk di dalam rumah pohonnya. Hangat. Berselimut tenteram. Berbantal angan.

Mengacuhkan kobar jilat api di sekitarnya. Menghanguskan. Meluluhlantahkan. Mengirim arang demi arang mengungkung ke angkasa merah.

Aku... hidup? Sudah berapa lama....

Hutanku... terbakar...?

Ah... tidak mengapa. Bakar dan hanguskan segalanya. Biarkan dahan dan daun penuh dusta itu kembali ke tanah, bersetubuh dengan bumi.

Ia membuka matanya. Namanya yang dipanggil. Namun bukan dari bibir sumur seperti biasanya. Suara yang meratap dari seberang dimensinya. Dari ruang di antara kabut es dan gunung-gunung beku menjulang tinggi. Bersahutan di antara nyinyir tiup badai yang terhempas hingga teritorinya. Seolah berusaha menghentikan bara amarahnya.

"Kenapa kau bakar hutanmu?!"

Lengkung senyum di bibir. Melebar. Merekah menelurkan tawa. Dingin dan menggema. Bagai ringkik kuda berteriak parau ke kaki langit. Penuh kegilaan. Sarat deraan.

Karena hutanku telah tercemar. Dirusak dan diinjak oleh tangan dan kaki para muka dua. Kini biarkan hutanku meranggas. Terbakar. Menjadi abu. Hingga kusemai benih dan kupupuk akar-akar itu menjadi ranting tak berdaun, berbunga, maupun berbuah. Biarkan mereka menjadi duri. Biarkan mereka menumpahkan merah di hutan ini.

Karena yang bisa membakar hutanku bukan cuma kamu.


20140905

Hutan (di ujung) Sumur #5

"Manusia itu abu-abu."


"Di antara hitam dan putih?"


"Ya. Dan segala hal di dunia tidak ada yang benar-benar putih dan benar-benar hitam."


"Lalu mengapa Tuhan menciptakan malaikat dan iblis?"


"Karena kita hidup di dunia, Sayangku. Dunia adalah abu-abu. Manusia itu pula abu-abu. Lain ceritanya jika kau hanya memiliki kartu kependudukan surga atau neraka saja."


"Manusia tercipta di antara malaikat dan iblis?"


"Karena manusia adalah makhluk sempurna dari keduanya, Sayangku. Sempurna karena memiliki hitam dan putih itu dalam bejana raga yang sama."


"Bagaimana jika di matamu hanya terdapat satu warna saja, antara hitam atau putih?"


"Berarti kau hanya punya satu unsur dalam dirimu. Silakan pilih. Unsur itu dinamakan Id dan Ego. Ada pula yang menamainya Logika, Nurani, dan Napsu."


"Yang mana yang hitam dan yang mana yang putih?"


"Tidak ada yang tahu, Sayangku. Karena, sekali lagi, manusia adalah abu-abu. Lima macam nama itu bahkan tidak sanggup manusia definisikan mana putih dan hitam."


"Kalau abu-abu tercipta dari hitam dan putih, kenapa manusia tidak bisa memisahkannya?"


"Memang kau sendiri tahu, abu-abu milikmu itu terdiri dari berapa persen putih dan berapa persen hitamnya?"


"...."


"Bergembiralah, Sayangku. Kita adalah manusia yang mengerti tentang abu-abu di sekeliling kita. Polikromatik putih-hitam yang tidak akan pernah, sekalipun, kau menemukan dunia hanya dilukis Tuhan oleh putih dan hitam tanpa tercampur setitik pun. Tuhan sangat menyayangi manusia. Tuhan tidak membiarkan kedua warna ini saling mendominasi untuk kemudian saling meniadakan satu sama lain."


"Lalu... apa jadinya mereka yang hanya melihat hitam atau putih?"


"Itu adalah keputusan mereka. Dan klise adalah di mana kau turun tangan untuk mencampur kedua warna itu di hadapan mereka."


"Jadi mereka, tidak bahagia?"


"Bahagia adalah dengan menerima. Bahagia adalah dengan bersyukur. Apa jadinya jika kau menampik kodratmu? Akankah kau bahagia, Sayangku?"

20140901

What's Under the Red Bean Paste

Project K, a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
Kings (c) Night Antares, semi-alternate universe
_________________________________________________________________________________

1 September. Seperti biasa. Dengan sebuah alasan klise paling manis--atau setidaknya paling bikin perut jungkir-balik dan tengkuk merinding mual, menurut Yata Misaki--Kusanagi Izumo akan menendang semua orang dari bar kesayangannya.

Semua orang. Ya, tolong catat itu. Karena nyatanya sang bartender tidak segan untuk 'menendang' rajanya sendiri sampai tuan putri tercinta HOMRA.

1 September yang kemudian akan dihabiskan Mikoto untuk tidur di sofa sebuah kondominium mewah milik sang Raja Biru--yang kerap sering masuk dalam fase habis-sabar dan sangat terobsesi untuk menumpahkan satu ember susu stroberi ke atas wajah tidur nan malas seorang Suoh Mikoto. 1 September yang kemudian akan dilalui Anna dengan berjalan-jalan berkeliling kota bersama Totsuka Tatara dan Kamamoto Rikio untuk membeli baju baru atau sekedar makan crepe vanila kacang. Dan 1 September yang kemudian harus dijalani Yata Misaki karena selalu terlibat dalam pertempuran Gagak vs. Monyet karena pada hari tersebut adalah tanggal wajib bagi Fushimi Saruhiko untuk mendapatkan waktu libur--berterima kasih pada dua atasannya yang tidak pernah absen ambil cuti di tanggal yang dimaksud.

Juga 1 September... yang membuat delapan orang personel khusus Munakata Reishi garuk-garuk belakang kepala, entah mensyukuri hari libur 'lokal' mereka karena absennya tiga orang atasan terhormat, atau harus merutuki nasib dan ikut lomba siapa-cepat-pesan-kamar-rumah-sakit demi menyelamatkan organ pencernaan dari satu liter pasta kacang merah yang sudah terpaket sempurna di depan pintu kamar asrama masing-masing.

Pasal permasalahan semua terletak pada tanggal 1 September itu sendiri, di mana 1 September merupakan hari ulang tahun dan hari kelahiran bagi sang vice commander Scepter 4, Awashima Seri.


****


Aquarium Shizume City, pukul satu tepat, Izumo menunggu di depan gerbang masuk dengan dua lembar tiket di tangan kanan dan tangan kiri di balik punggung, menyembunyikan satu buket tulip merah. Tanpa sempat melirik ulang pada panel jam di PDA-nya, derap langkah ritmik dari sepasang heels membuatnya mengangkat kepala... ah, mademoiselle tercantiknya hari ini sudah tiba, rupanya.

"Selamat siang, Mademoiselle. Kau tampak menawan sekali hari ini," ujar Izumo, menyelipkan dua lembar tiket di saku blazer hitamnya untuk kemudian menarik tangan Seri dan mengecup punggung tangan sang letnan Scepter 4. Wanita cantik yang bersangkutan hanya mengerjap sepersekian detik, kentara tidak siap menghadapi manuver menggelitik dari sang bartender, hingga akhirnya Seri tertawa pelan dan balas membungkuk.

"Kau selalu punya gayamu sendiri untuk membuatku lengah, Kusanagi. Terima kasih banyak. Dan boleh kuminta hadiah ulang tahunku sekarang?"

"Ahhahahaha~ kau benar-benar wanita agresif, Seri-chan. Baiklah, satu tiket masuk aquarium dan satu buket bunga tulip merah, jika kau tidak keberatan tentunya."

Menyerahkan buketnya, dan detik berikutnya berkuntum tulip merah itu sudah dipeluk erat di dada Seri, "Sungguh romantis, Kusanagi. Padahal kau tahu aku paling tidak suka warna merah."

"Karena tulip merah memiliki makna lain, Mademoiselle."

Tatapan memicing. Curiga. Disamarkan dalam sebentuk senyum simpul. "Yaitu...?"

"Pernyataan cinta."


****


Ini bukan kali pertama Seri mendengar kabar miring di telinganya mengenai sejumput rasa yang tersimpan di benak sang bartender kenamaan HOMRA, dengan namanya yang terukir indah sebagai tujuan dari untaian rasa di benak seorang Kusanagi Izumo. Si shitsuchou-nya sendiri kerap kali menasehati--kalau tidak mau dibilang 'memperingatkan'--dirinya tentang perbedaan tipis antara fase menyangkal dan jual mahal ("Jual mahal itu perlu, tapi kau tidak bisa selamanya menggunakan dalih tersebut untuk menutupi fase penyangkalanmu, Letnan," atau begitulah kata-kata shitsuchou, kalau Seri tidak salah ingat).

Yang lebih mengherankan adalah ketika Valentine beberapa bulan lalu dan sebuah homemade chocolate tiba di atas meja kerjanya (dark chocolate 75% kesukaannya dengan campuran aroma brandy dan tak lupa pasta kacang merah sebagai filling-nya, rasa yang pas sempurna di lidahnya, dan Seri tahu hanya ada satu orang di dunia--ya, ini bukan metafora maupun hiperbola berlebihan--yang tahu seleranya hingga se-detail itu), diikuti seringai tipis di wajah sang third in command yang dilanjutkan dengan kalimat sinis, "Letnan, sampai kapan kau mau menggantung Kusanagi-san seperti ini, eh?"

Sungguh. Kalau tidak ingat bahwa fakta membunuh Fushimi Saruhiko di tempat akan menjadikannya sasaran-pukul-bat-kasti-seumur-hidup oleh si vanguard HOMRA, mungkin Seri tidak segan untuk memutilasi Saruhiko dan menenggelamkan pemuda bermulut tajam itu di teluk terdekat.

Maka dari seluruh hal yang telah disebutkan itulah Seri hanya terdiam dan berusaha menikmati setiap detik yang tersaji dari kebersamaan hari liburnya, ditemani Kusanagi Izumo di sisinya. Izumo tidak sekalipun mencuri kesempatan untuk saling menautkan jemari, namun Seri pun tidak bisa berpaling setiap kali Izumo memandunya--mempersilakannya untuk melangkah terlebih dahulu di eskalator naik dan menyusul Seri satu undakan di setiap eskalator turun, membukakan pintu taksi, hingga hari menggelap keduanya tiba di bar HOMRA, dan Izumo dengan gesturnya yang tidak dibuat-buat mempersilakan Seri masuk hingga menarik kursi bar untuknya.

Seri yakin, bahkan shitsuchou-nya sekalipun tidak akan bisa memperlakukan wanita dengan lihai dan anggun seperti ini. Sesempurna seorang Kusanagi Izumo.

"Pesanan Anda untuk malam ini, Mademoiselle?"

"Hmm... kuserahkan padamu, Kusanagi. Berikan aku racikan cocktail terbaik darimu untuk hari spesialku ini."

"Suatu kehormatan untukku kalau begitu."

"Ah, dan jangan lupa pasta kacang merahnya."

"... baik, Mademoiselle."

Mengulum tawa tertahan di mulut, Seri memperhatikan sang bartender dan kelihaian kedua tangan dalam mencampur bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meracik cocktail kejutan baginya. Diam-diam, betapa jantung Seri kerap kali berlari setiap kali sang bartender memperlihatkan kemampuannya. Aura mempesona yang menarik sepasang matanya untuk tidak berpaling. Raut wajah matang dan mantap setiap kali sang bartender memilih dan meraih botol-botol koleksi alkohol dari rak beserta bahan-bahan komplementer lainnya. Seri sering lupa bernapas. Seri sering terlarut hingga melupakan di mana dirinya berada, posisi dirinya, maupun latar belakang merah dan biru yang membayanginya serta Izumo.

"Silakan, pesanan Anda di hari istimewa ini, satu gelas Sea Breeze, perbandingan 4 vodka, 12 sari cranberry, dan 3 sari anggur hitam, dilengkapi topping pasta kacang merah dan hiasan potongan lemon, semoga menjadi hidangan penutup yang tepat untuk menyempurnakan hari ulang tahun Anda, Mademoiselle."

"Cranberry dan anggur hitam, Kusanagi? Perpaduan untuk melambangkan merah dan biru, begitu?"

Sang bartender hanya menjawab dalam gumaman bernada riang. Seri tertawa seraya menenggak isi gelas birnya. Rasa hambar vodka yang tertutup sempurna oleh asam manis cranberry dan anggur, tanpa memalingkan lidahnya dari serat pasta kacang merah... semuanya terasa begitu pas.

Ah, Kusanagi Izumo memang tidak pernah gagal untuk memuaskan indera perasanya.

Namun sesuatu yang kemudian menarik perhatian Seri. Tepat ketika cocktail-nya tinggal bersisa seperempat, dan sendoknya menyentuh benda padat di dasar gelasnya.

"Lebih baik kau keluarkan sebelum kau berakhir menelannya bulat-bulat, Seri-chan."

Mengernyitkan kening, Seri menyendok dasar gelas birnya.

Untuk kemudian menemukan jantungnya yang berhenti berdetak. Barang sepersekian detik lamanya.

Sebuah cincin. Disepuh emas putih. Pada matanya terdapat sebuah safir berkilau, ditemani dua rubi mungil di kanan-kiri.

Seri kehilangan kata-kata.

Lalu sebuah lagi diputar dari jukebox di sudut ruangan. The Way You Look At Me.

Sementara sosok sang bartender yang kini berdiri di sampingnya.

"Ku--kusanagi...."

"Aku hampir patah hati ketika kau tidak mempertanyakan arti tulip merah siang tadi, Seri-chan. Meski aku tahu aku sama bebalnya seperti Mikoto, orang paling keras kepala di HOMRA, sehingga aku tidak berhenti mencoba hingga detik terakhir sebelum hari ini berakhir. Dan cincin itu adalah satu dari bentuk keegoisanku yang lain."

Lidah Seri kelu. Kata-kata menguap dari kepalanya. Bahkan ia tidak bisa berbohong dari pipinya yang mulai terasa memanas.

Sayangnya, kebiasaan Seri bersilat lidah tidak akan membantunya maupun menyelamatkannya dari apa yang mulutnya lontarkan secara spontan berikutnya.

"Memangnya bentuk keegoisan apa lagi yang bisa kau lakukan untukku, Kusanagi?"

Dentang tawa Izumo memecah di telinganya. Dan dalam satu gerakan cepat, sang bartender menggamit tangan Seri, mendaratkannya tepat di atas dada bidang laki-laki itu.

"Berdansalah denganku."

"Ta--tapi aku--"

"--aku akan memandumu, jangan khawatir."

Dan Seri terlarut. Dalam wangi alkohol. Dalam alunan lagu-lagu ballad yang mengiring hentak kaki dan lenggok tubuhnya. Dalam sepasang tangan yang erat merangkul sisi tubuhnya, terasa begitu aman menjaganya. Dalam wangi tembakau yang menguar dari pria di hadapannya.

Tanpa lagi peduli merah dan biru. Tanpa peduli status dan julukan.

Dalam diri seorang Kusanagi Izumo, dan Seri tahu ia mampu menyandarkan seluruh hidupnya di pundak laki-laki itu.


****


I don't know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

'Cause there's something in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You make me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's something in the way you look at me

.............................................

[The Way You Look At Me - Christian Bautista]


****


"Kau tahu, Izumo? Caramu memberiku cincin barusan adalah termasuk modus paling jorok yang pernah kutemui seumur hidup."

"Setidaknya kau menerimanya, 'kan, Seri?"

"Aku akan merindukan caramu memanggilku dengan akhiran -chan."

"Dan aku pun akan merindukan panggilan 'Kusanagi' darimu. Meski mendengar namaku terucap dari suara indahmu itu bukanlah hal yang buruk sama sekali."

"Hmm~ kau memang pandai merayu, Izumo."

"Jadi, selamat ulang tahun, Mademoiselle, My Lass."

"Terima kasih banyak, Monsieur."


****


Dan suatu keajaiban adalah ketika tanggal 2 September, khusus pada kali ini, sang vice commander Scepter 4 melangkahkan kaki ke dapur dan menemukan segunung pasta kacang merah yang teronggok di kulkas kafetaria Scepter 4, tidak tersentuh sama sekali. Alih-alih mengguratkan pitak di wajah ayunya maupun meneriakkan satu perintah hukuman pada delapan orang bawahannya, yang bersangkutan hanya menghela napas dan kembali menutup pintu kulkas, berjalan tenang meninggalkan dapur kafetaria.

Awalnya tidak ada satupun dari kedelapan personel khusus milik si shitsuchou yang berani menatap--atau bahkan sekedar curi-curi pandang--ke arah sang letnan demi mencari setiap jengkal perbedaan yang terjadi dalam diri Awashima Seri... tidak sampai kemudian sebuah e-mail masuk ke dalam PDA Saruhiko, raut wajah Saruhiko yang berubah, antara kentara menahan tawa namun mati-matian memasang wajah datar--yang nyatanya berhasil membuat Saruhiko benar-benar terlihat seperti orang senewen yang sedang menahan sembelit. Dan tidak butuh waktu lama hingga shitsuchou masuk ke ruang kerja mereka, lalu melempar pandang pada benda melingkar yang tersemat di jari manis tangan kanan Seri.

"Selamat dan semoga berbahagia, Awashima-kun. Apakah kau masih bersedia untuk kuundang minum teh berdua saja di ruanganku? Aku ingin mendengar detail kejadiannya, secara lengkap. Ah ya, dan kuharap kau tidak keberatan untuk memberikan masukan terhadap beberapa, masalah, yang sedang kualami belakangan ini."

Ketika kedua atasan mereka meninggalkan ruang kerja, Saruhiko tahu meja kerjanya tidak akan berhasil selamat dari kejaran dua orang biang gosip yang punya mulut paling ember di seantero Scepter 4. Oh ya, berterima kasih pada Hidaka dan Doumyouji, karena beberapa detik kemudian seluruh PDA dinas milik delapan personel Munakata Reishi itu dihiasi oleh foto eksotis seorang Kusanagi Izumo yang tanpa rupa setelah seluruh wajah dan separuh tubuh habis dicoleki oleh krim berwarna merah jambu, serta di pojok foto tampak sang tuan putri HOMRA tengah mengulum cokelat pipih yang berisikan tulisan, 'Selamat karena telah berhasil menjinakkan si Heartless-Woman, dear Kusanagi Izumo~!'.

20140831

Crimson Violet

K: Missing Kings, a fanfiction
Disclaimer: GoRA & GoHands
_________________________________________________________________________________

Aura merah dan biru.
Merah yang indah, berbaur bersama biru yang sama-sama cantik.

Meski terasa begitu salah.

Merah itu tidak seharusnya berada di sana.
Tidak seharusnya menggema bersama biru.

Aura merah dan biru.
Sosok pedang agung biru menghiasi langit malam.
Hari itu hujan.
Sementara tetesan hujan yang seolah memburamkan keping-keping pecahan sang pedang agung.

Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Ganas.

Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Sekujur tubuh gemetaran.
Tangan pucat yang memeluk tubuhnya sendiri.

Jatuh.
Si pemilik pedang jatuh.
Dalam dukanya.
Dalam lukanya.
Dalam masa lalu dan--yang menurutnya--adalah dosa baginya.

Aura merah dan biru.
Hujan yang belum berhenti mengguyur deras. Garang.
Pedang agung yang mengguruh di atas kepala.
Keping-keping yang terserak. Pecah. Berantakan.
Siap menghantam bumi.

Sementara si pemilik pedang bersimpuh di atas lututnya.
Jatuh.
Berteriak.

Menyambut pedang agung yang meluncur turun dari langit.


****


"Tidak biasanya kau datang ke kantorku dan setengah memaksa untuk mengadakan pertemuan denganku, Raja Merah."

Anna terdiam. Meski sepasang rubinya tajam menilik ke dalam ungu milik sang Raja Biru.

Reishi tersenyum.

"Ada apa, Anna?"

"... Reishi... belum bisa melepaskan?"

Senyum di wajah sang Raja Biru lenyap seketika. Oh, kedua raja di ruangan itu sudah tahu ke mana arah perbincangan akan bermuara.

Selalu. Tentang orang itu.

"Ah, aku tentunya tidak bisa berbohong di hadapanmu bukan, Anna?"

"Reishi sudah cukup berbohong pada diri sendiri. Juga pada Seri. Pada Saruhiko. Pada Izumo. Maupun anak buahmu sendiri. Reishi... masih mau berbohong?"

Sakit. Rasa itu menjelma di benak sang Raja Biru.

Satu gerakan cepat. Anna setengah berlari, mendekati Reishi, untuk menubrukkan tubuh mungilnya pada sang Raja Biru yang masih duduk tenang di singgasana kebesarannya.

"... Anna...."

"Lepaskan Mikoto, Reishi... Mikoto ingin Reishi hidup... dan bahagia.... Makanya Reishi... makanya...."

Satu desah napas. Sebentuk senyum yang dipaksakan. Namun rasanya teramat pahit.

Tangan Reishi yang kemudian balas mendekap sang Raja Merah. Menyesap hangat dari merah yang nyaris berkelit kabur dari sudut ingatannya.

"Maaf, Anna. Tapi aku... sudah tidak tahu lagi apa arti kata bahagia itu sendiri...."

.

'Karena aku menolak untuk bahagia tanpa dirinya.'

.

20140827

Hutan (di ujung) Sumur #4

Terkadang, kau masih bisa menemukan kepak sayapnya, hinggap di puncak tertinggi pohon ara. Terkadang, kau masih sanggup menemukan sosoknya, terduduk gagah dengan sebelah kaki menjuntai turun pada satu-satunya lubang pohon pada ara menjulang hingga angkasa itu.

Dan seringkali, senyumnya akan menyapamu, ketika ia melompat turun dari dahannya untuk menyapamu di kaki pohonnya.

"Kau masih mencariku? Merindukanku?"

Kau hanya bisa menatap nanar pada sepasang mata elangnya yang tajam namun merapuh.

"Kau tahu kau akan selalu menemukanku di sini. Aku akan selalu ada."

Sementara kau hanya diam terpaku. Lidahmu kelu. Tubuhmu kaku.

Dan ketika ia merentang lengannya untuk kemudian membungkusmu dalam satu dekap penuh jalaran rasa semu, sesuatu dalam dadamu akan menyesak. Sakit yang meluap. Air mata yang kemudian tanpa kau sadari tumpah meruah.

Satu kecup di keningmu.

Saat itu kau akan tahu.

Saat itu, dia mencintaimu.

"Sampai jumpa di mimpimu yang lain. Jangan pernah mencariku ketika kau membuka matamu nanti."

Dan saat itu kau akan tahu.

Sampai nanti, dia akan menunggumu. Dalam keabadiannya.