20130213

Love Potion #7

"Aah, jadi pengen cepet-cepet punya suami rasanya!"

"Tuh, Ki! Alena udah kebelet, tuh!"

"Len, please, gue tahun ini masih sakit kepala gara-gara skripsi, dan tahun depan gue nyusun tesis. Jangan bikin kepala gue tambah mau pecah."

"Emang kamu tahun depan bakal tesis sampai kapan?"

"Juli, paling lambat Oktober beres."

"Oktober? Oke, nanti setelah kamu beres tesis, aku ingetin lagi, ya! Lagian engga enak tau, di rumah sendirian. Pengen ada yang nemenin...."

"Oooh... jadi kamu pengen aku nikahin kamu cuman gara-gara pengen ada temen aja?"

"Iya, Ki. Temen hidup, dunia sampai akhirat."

****

Aki tidak pernah merasa dipecundangi habis-habisan seperti ini sebelumnya. Dipencundangi perasaannya. Dipecundangi oleh impian-impiannya sendiri. Betapa berkali-kali ia ingin menghantamkan kepalanya ke tembok, ketika Alena yang mendapatkan gelar Strata 1-nya di bulan April dan langsung terbang ke Jepang, meninggalkan dirinya dengan segunung pekerjaan di laboratorium dan layar komputer, bercengkerama bersama kode coding yang kerap kali ngadat tidak mau dijalankan, hanya ditemani setermos kopi setiap malamnya....

... tanpa Alena, istrinya, di sampingnya.

Istri? Ah ya, tentu saja. Begitu tahu Alena menerima beasiswa untuk melanjutkan studi luar negeri, Aki langsung tancap gas meminang gadis itu ke hadapan ayah mertuanya serta dua saksi-saksi sumpah setia mereka.

Dan sekarang? Aki terjebak dalam lika-liku sepi yang erat membelenggunya siang dan malam. Kalau pernikahan memang seberat ini rasanya, apakah keputusannya untuk buru-buru menikahi Alena setahun yang lalu itu merupakan suatu kesalahan?

"Kalau lo engga nikahin dia, yang ada lo tambah galau, Ki. Sekarang lo galau cuman gara-gara kangen doang sama dia. Kalau belum nikah? Bisa-bisa lo epilepsi stadium lanjut gara-gara khawatir lo bakal ditikung orang lain."

Aki mendengus. Tak perlu lagi membalik badannya untuk mengetahui siapa pemilik rentetan kata-kata semena-mena tadi.

"Ditikung siapa? Elo maksudnya, Ze?"

Zen mengangkat bahu. "Entah. Bisa gue. Bisa juga cowok-cowok Jepang. Mereka 'kan ganteng-ganteng, Ki."

"Ah, itu sih mata lo aja yang salah orientasi."

Meski dalam benak, Aki mengamini semua perkataan sahabat baiknya itu. Jika memang atas nama cinta, maka Aki rela melakukan apapun demi kebahagiaanya, juga Alena. Dan menunggu, adalah satu-satunya kata yang bisa ia rangkai untuk membuatnya bahagia... setidaknya untuk saat ini.

"Kalem aja, Ki. Alena pasti balik, kok. Toh dia sendiri 'kan yang dulu minta lo nikahin dia cepet-cepet?"

"Haha... iya sih. Dan gue inget banget muka asem lo di mobil pas denger dia ngomong kayak gitu. Priceless banget, sumpah gue pengen liat lagi."

"Basi, woi...! It's you who have an issue here, Dude, jadi jangan ngalihin permbicaraan!"

"Iya, iya, bawel. Dan Zen... tolong jangan colek-colek spektrometer gue, kecuali lo mau bayar sepuluh juta buat ngegantiin kalau sampai cacat dan engga bisa gue pakai lagi."

No comments:

Post a Comment